Penjualan semen SMGR diyakini bakal terus tumbuh

Penjualan semen SMGR diyakini bakal terus tumbuh

Di tengah persaingan ketat di industri semen dan akibat belum pulihnya sektor properti, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) masih mampu mencetak pertumbuhan penjualan. Dengan bertambahnya kapasitas produksi dan mulai pulihnya permintaan, penjualan semen SMGR bakal lebih tinggi tahun ini.

Penjualan semen SMGR pada bulan Mei 2017 mencapai 2,35 juta ton tumbuh 9,6% dari periode sama tahun lalu 2,15 juta ton. Secara keseluruhan total penjualan semen hingga lima bulan pertama mencapai 10,98 juta ton tumbuh 8,2%% dari tahun lalu sebanyak 10,14 juta ton. Tahun ini perusahaan plat merah ini menargetkan penjualan tumbuh 4% year on year (yoy) menjadi 27,6 juta ton.

Menurut analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin, pertumbuhan penjualan semen SMGR akan lebih tinggi di tahun ini. Beberapa pendorong pertumbuhannya di antaranya yaitu mulai membaiknya penjualan semen Gresik di mana sampai lima bulan pertama tumbuh 11,3% menjadi 5,98 juta ton. Dan ini sejalan dengan pertumbuhan penjualan di Jawa Timur 15,7% yoy menjadi 3,84 juta ton.

Lebih lanjut analis NH Korindo Sekuritas Yuni bilang pertumbuhan penjualan di Jawa Timur mencerminkan dampak proyek infrastruktur di Pulau Jawa. Kemudian beroperasinya pabrik baru di Rembang pada kuartal III akan membantu SMGR untuk memenuhi permintaan semen di pulau Jawa, “khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur,” kata Yuni dalam riset 9 Juni 2017.

Selain itu, menurut Mimi tumbuhnya penjualan SMGR juga ditopang oleh beroperasinya pabrik Indarung IV pada bulan April lalu, sehingga penjualan semen Padang tumbuh. Tercatat hingga lima bulan pertama penjualan semen Padang tumbuh 8% yoy menjadi 2,73 juta ton.

Kemudian penambahan kapasitas pabrik penggilingan di Jawa Barat sebesar 2 juta ton per tahun yang akan beroperasi komersilnya pada kuartal II tahun ini akan mendorong penjualan SMGR. “Dengan demikian, kami berharap SMGR membukukan kenaikan volume yang lebih tinggi seiring bertambahnya kapasitas dan meningkatnya permintaan dalam negeri,” ujar Mimi dalam riset 7 Juni 2017.

SMGR juga mencatatkan pertumbuhan sangat signifikan pada penjualan ekspor. Tercatat hingga lima bulan pertama ekspor Semen Padang tumbuh 342,1% menjadi 385.691 ton, untuk semen Tonasa tumbuh 276,7% menjadi 174.265 ton. Menurut Yuni penjualan ini didukung oleh penjualan ke Australia dan negara-negara ASEAN.

Meskipun demikian, Mimi menilai SMGR mendapatkan tantangan dari menurunnya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). Pada bulan April harga jual semen SMGR turun 8,9% yoy, hal ini disebabkan meningkatnya produksi semen curah yang biasanya memiliki ASP lebih rendah dari semen biasa.

Analis Minna Padi Investama, Evelyn Rosiana bilang secara industri masih akan terjadi kelebihan pasokan semen di lapangan. Hal ini karena masih lemahnya permintaan semen, di tambah masuknya pemain-pemain baru sehingga menyebabkan kelebihan kapasitas di Industri. Dan ini diperparak masih melambatnya sektor properti yang menjadi tumpuan industri semen.

Pengembangan infrastruktur yang dilakukan pemerintah sejauh ini tidak mampu mengimbangi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Namun, dalam jangka panjang, proyek infrastruktur dapat membawa multiplier effeck bagi industri semen.

Evelyn juga mengatakan selain mengembangkan bisnis semen, ternyata SMGR juga mengembangkan bisnis non semen di mana kontribusinya pada kuartal I-2017 sebesar 24% dari pendapatan. “Perusahaan masih memiliki potensi yang baik dalam mendongkrak penjualan SMGR di tengah lesu nya pasar semen domestik,” ujarnya kepada KONTAN, Senin (19/6).

Belakangan investor asing mulai banyak yang masuk ke saham SMGR, menurut Evelyn itu SMGR merupakan salah satu saham blue chips sehingga menjadi incaran investor asing setelah adanya peningkatan rating investment di Indonesia.

Hingga kuartal I-2017 SMGR membukukan pendapatan sebesar Rp 6,39 triliun tumbuh 6,2% dibanding tahun sebelumnya Rp 6,02 triliun. Sementara laba bersih tercatat turun 38,4% menjadi Rp 746,5 miliar dari sebelumnya Rp 1,03 triliun. Yuni memprediksi pendapatan SMGR hingga akhir tahun tumbuh 10,9% yoy menjadi Rp 28,99 triliun, sedangkan laba bersih turun 10,6% yoy menjadi Rp 4,08 triliun.

Mimi dan Evelyn merekomendasikan hold dengan target harga masing-masing Rp 9.000 dan Rp 9.621. Sementara Yuni merekomendasikan buy dengan target harga Rp 11.925.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s