Begini Konsep Penambangan Ramah Lingkungan Pabrik Semen Rembang

semen-rembang-800x445

Dalam surat Badan Geologi nomor 4474/05/BGL/2014 tertanggal 12 September 2014 yang ditandatangani Kepala Badan Geologi, Dr Surono, ditujukkan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyampaikan beberapa poin rekomendasi dalam upaya perlindungan air tanah terkait rencana penambangan batugamping di wilayah Kabupaten Rembang yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia. Surat tersebut merupakan klarifikasi surat sebelumnya nomor 3131/05/BGL/2014 kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tertanggal 1 Juli 2014 yang menyatakan penolakan terhadap pembangunan pabrik semen Rembang karena kawasan tersebut merupakan cekungan air tanah Watuputih.

Poin-poin tersebut diantaranya perlu melakukan upaya untuk menjaga keseimbangan air tanah dalam menjaga daya dukung dan fungsi daerah imbuhan, melakukan upaya pemulihan kondisi dan lingkungan air tanah pada daerah yang telah dieksploitasi melalui tahapan reklamasi, membangun sumur monitoring untuk memantau perkembangan fluktuasi muka air tanah dan membangun alat monitoring debit mata air, dilarang melakukan penambangan dalam radius 200 meter dari lokasi pemunculan mata air, wilayah penambangan yang berada pada kawasan sempadan mata air agar memperhatikan pemanfaatan ruang terbuka hijau dan pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air.

Sebetulnya, sebelum keluarnya dua surat pernyataan dari Badan Geologi, PT Semen Indonesia sudah memberikan kejelasan bahwa penambangan yang dilakukan di Rembang menggunakan teknologi tercanggih dengan konsep ramah lingkungan. Lebih baik dibanding dengan teknologi yang sudah berjalan di pabrik Tuban. Apalagi dengan pabrik semen swasta.

Pabrik semen Rembang didesain sangat enviromental friendly. Teknologi yang digunakan sangat ramah lingkungan. Seperti Main Bag House Filter, sebagai pengganti teknologi Electronic Precipitator (ESP). Main Bag House Filter, tidak terdapat safety interlock berkaitan dengan tingginya tingkat gas CO. Hal ni memungkinkan emisi debu yang rendah, di bawah 30 mg/Nm3, bahkan pada saat operasi kiln sedang offset. Selain itu, untuk memudahkan maintenance penggantian bag filter, Main Bag House Filter didesain dengan menggunakan konsep online maintenance. Konsep ini, memungkinkan penggantian bag filter pada saat peralatan sedang beroperasi.

Dust Emission Monitoring dan Gas Emission Analyzer yang telah terintegrasi dengan Plant Automation System. Kedua alat ini berfungsi untuk memantau tingkat emisi debu di setiap cerobong yang ada di Pabrik Rembang. Khusus untuk Main Stack ditambahkan alat untuk memantau tingkat emisi gas buang terutama SOx, NOx, 02, C02 dan CO.

Pada penggunaan bahan bakar, pabrik Rembang menggunakan Bahan Bakar Alternatif (BBA) dengan jenis fluffy material seperti sekam, serbuk gergaji, coco peat, sampah tembakau dll. Konsumsi listrik yang besar disiasati dengan menggunakan teknologi Variable Frequency Drive (VFD) pada aplikasi motor-motor besar, yang akan menghemat konsumsi listrik hingga 60 persen.

Penggunaan air yang dipermasalahkan sebagian pihak, nyatanya hanya digunakan untuk pendingin, perawatan peralatan dan sanitasi. PT Semen Indonesia untuk pabrik Rembang ini memanfaatkan air permukaan sebagai raw water. Air permukaan dimanfaatkan kembali sebagai raw water didalam bozem, waduk bekas galian tambang. Air permukaan ini kemudian diproses dengan teknologi Water Treatment Plant (WTP) dan Closed Loop Cooling Tower. WTP Pabrik Rembang menggunakan proses Dissolved Air Flotation (DAF) dan Ultrafiltration (UF). Proses ini akan Iebih hemat dalam hal konsumsi bahan kimia maupun konsumsi energi listrik.

Konsep penambangan Pabrik Rembang menggunakan sistem Block Mining System. Sistem ini merupakan sistem terbaru dan termahal di Indonesia. Penambangan dilakukan perblok, setelah dilakukan penambangan per blok dilakukan penanaman pohon (rehabilitasi) agar blok tersebut kembali hijau dan dibuat embung. Lahan-lahan yang belum ditambang akan dimanfaatkan oleh petani sekitar untuk bercocok tanam seperti yang dilakukan di Pabrik Tuban. Kondisi lahan bekas tambang akan lebih hijau dan lebih produktif.

Untuk meminimalkan debu, Pabrik Rembang mengaplikasikan konsep Buffer Zone seluas 50 meter persegi yang mengelilingi areal penambangan. Buffer zone tersebut ditanami pohon mahoni dan pohon jati. Juga bisa dimanfaatkan oleh petani sekitar untuk bertani tumpang sari. Buffer zone ini akan mengurangi debu akibat hembusan angin pada saat penambangan dan mengurangi kebisingan. Pengangkutan bahan baku semen pun menggunakan Downhill Long Belt Conveyor yang menghemat energi listrik dan polusi debu.

Hal ini sudah cukup banyak memberikan penjelasan bahwa teknologi yang digunakan Pabrik Rembang sangat enviromental friendly. Tidak ada keraguan bagi mereka yang mau berpikir dan memberikan kesempatan untuk menelaah berdasar fakta bukan atas dasar obsesi kelompok yang dikemas dengan label kepedulian pada lingkungan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s