Ocha Senang Belajar Menari di Griya Pamulangan di Tegaldowo Gunem Rembang

menari-di-griya-pamulangan-di-tegaldowo-gunem-kabupaten-rembang_20170524_081037

 

Mata Ocha (4) lekat-lekat menatap instruktur tari yang ada di hadapannya. Sejenak kemudian, tubuh dan tangan mungilnya melenggak-lenggok, menirukan gerakan Novi, sang instruktur.

Sore itu, Ocha dan beberapa anak lainnya tampak begitu riang gembira, belajar menari rampak, di Griya Pamulangan, turut Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, kabupaten Rembang.

“Senang, menari bareng temen-temen. Asyik, rame-rame,” ucap Ocha, malu-malu, Selasa (23/5).
Gadis mungil yang masih duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD), itu tampak menggeleng saat ditanya, apakah sudah berani tampil di depan umum. Sejurus kemuian, sudut matanya melirik sang teman, seolah meminta bantuan jawaban.

Instruktur tari di Girya Pamulangan, Novian Murti Lokasari, mengatakan ia mengajar di tempat itu tiga kali dalam seminggu‎. Yakni, pada hari Senin, Selasa dan Jumat.

“Pesertanya mulai dari anak-anak usia PAUD, hingga remaja seusia tingkat sekolah ‎menengah atas (SMA),” kata perempuan yang karib disapa Novi, itu.

Bahkan, disampaikan, kelompok anak didiknya berusia setingkat sekolah menengah pertama (SMP) – SMA, sudah beberapa kali pentas, dalam berbagai kesempatan di Rembang. Menurut dia, anak didik usia remaja sudah menguasai beberapa jenis tarian.

“Ada banyak jenis tarian yang diajarkan di sini. Mulai dari tari rampak, gambyong, soyong, tumandang, ngoser, gegala, tendet, dan lainnya,” ucap lulusan ‎Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.
Seorang warga Tegaldowo, Dwi Joko Supriyanto, mengatakan Griya Pamulangan merupakan tempat masyarakat sekitar pabrik Semen Indonesia Rembang, untuk belajar berbagai hal. Menurut dia, di tempat itu, hampir tiap hari, diselenggarakan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Mulai dari belajar menari, memasak, membuat kerajinan, dan banyak lainnya. Ini sudah berlangsung sudah cukup lama,” kata Dwi Joko.

Diakui, seluruh dana operasional ‎untuk menggelar berbagai aktivitas di Griya Pamulangan, berasal dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) Semen Indonesia Rembang.

“Kami pikir, dengan adanya pabrik semen di sini, bisa menggerakkan berbagai sendi kehidupan masyarakat, melalui banyak kegiatan yang didanai dari CSR,” ucap seorang guru, di sebuah sekolah dasar (SD), di desa setempat.

Bahkan, sambung dia, beberapa ibu-ibu rumah tangga, yang mengikuti kursus memasak di Griya Pamulangan, kini sudah membuka kantin di lingkungan pabrik semen. Penghasilan sehari-hari mereka pun cukup lumayan.

“Kalau ada acara-acara di lingkungan pabrik, katering dan jananan ya yang menyediakan adalah ibu-ibu yang telah mengikuti kursus memasak di sini,” ujarnya.

‎Menurut dia, yang berkegiatan di Griya Pamulangan, bukan hanya warga Desa Tegaldowo. Melainkan dari berbagai desa lain, yang berada di ring satu area pabrik dan tambang semen. Disebutkan, selain Tegaldowo, terdapat empat desa lain yang berada di ring satu, yakni Timbrangan, Pasucen, dan Kajar, serta Kadiwono yang masuk wilayah Kecamatan Bulu.

“Sudah sejak 2014, ada banyak rangkaian kegiatan di desa-desa kami ini, yang dibiayai oleh CSR Semen Indonesia Rembang,” akunya.
‎Slamet Mursidiarso, dari Biro Legal dan GRC PT. Semen Indonesia, mengatakan perusahaan milik badan usaha milik negara (BUMN) itu mengucurkan puluhan miliar rupiah tipa tahunnya, untuk dana CSR.

Disebutkan, pada tahun 2016 pihaknya menganggarkan Rp35 miliar, untuk dana CSR yang diperuntukkan bagi masyarakat di ring satu dan Rembang secara keseluruhan.

“Namun, dari dana Rp 35 miliar yang dianggarkan, hanya terserap Rp 20 miliar,” ucapnya.
‎Menurut dia, pada tahun berikutnya, atau 2017 ini, Semen Indonesia Rembang, menganggarkan Rp 20 miliar untuk program CSR. “Anggaran sebesar itu, mempertimbangkan dana CSR yang dapat terserap pada tahun sebelumnya,” sambung Slamet.

Dikatakan, satu di antara kegiatan yang didanai CSR adalah seluruh aktivitas yang ada di Griya Pamulangan. Disampaikan, pamulangan berasal dari kata bahasa Jawa ‘mulang’‎, yang berarti mengajar.

“Harapannya, dengan berbagai pembekalan yang dilakukan di Griya Pamulangan, potensi masyarakat sekitar dapat diberdayakan‎ secara maksimal. Konsepnya pemberdayaan, kita memberikan kail,” terangnya.

Selain itu, CSR juga tetap menyasar program lain. Semisal, bedah rumah, jambanisasi, pembagian sarung, pengadaan Al-Quran, penyelenggaraan kegiatan keagamaan-sosial, dan lainnya.

“Kita juga ada program beasiswa bagi siswa yang berprestasi. Bahkan, ke depan, kita ingin putra-putri terbaik Rembang, dapat melanjutkan pendidikan di Universitas Intenasional Semen Indonesia (Uisi) maupun Akademi Komunitas Semen Indonesia (Aksi) di Gresik‎,” ujar dia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s