Surat Terbuka dari Masyarakat Sekitar Pabrik Semen Rembang Kepada Para Akademisi

Bersama ini, kami mayoritas masyarakat desa-desa sekitar Pabrik Semen Rembang ingin menyampaikan tanggapan terhadap seruan ratusan akademisi kepada Presiden Joko Widodo terkait pembangunan Pabrik Semen agar memperhitungkan keadilan sosial serta menghormati hak hidup masyarakat lokal dan daya dukung ekologi.
 
Kami, warga Rembang yang tinggal di seputar Pabrik Semen Rembang milik Semen Indonesia, merasa SENANG, SEDIH, HERAN, MARAH dan sekaligus menaruh HARAPAN pada para akademisi tersebut.
SENANG, karena kami yang selama ini tidak pernah menjadi perhatian, sekarang menjadi perhatian nasional, termasuk perhatian para akademisi yang terhormat tersebut, sampai-sampai menulis seruan kepada Bapak Presiden Joko Widodo.
 
SEDIH, karena selama ini Bapak dan Ibu para akademisi yang terhormat, yang seakan mengetahui dengan baik kondisi kami, tidak peduli bahwa Kabupaten Rembang merupakan salah satu Kabupaten termiskin di Jawa Tengah, tidak pernah tahu dan peduli bahwa desa-desa sekitar pabrik jauh lebih tidak beruntung dengan tingkat kemiskinan rata-rata di atas 70%, tidak pernah hadir ketika kekeringan melanda kami setiap tahun, tidak pernah hadir saat sawah-sawah kami kekeringan, tidak pernah hadir ketika sebagian warga kami harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, tidak pernah hadir saat sebagian suami dan anak-anak kami harus meninggalkan keluarganya keluar daerah untuk mencari sesuap nasi karena di wilayah kami sendiri tidak banyak yang tersisa, tidak pernah ada perhatian saat sebagian anak-anak kami terpaksa putus sekolah, tidak pernah tahu dan peduli saat wilayah kami tercatat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat perkawinan dini yang tinggi, dan juga tidak pernah peduli dan hadir saat wilayah kami tercatat sebagai wilayah dengan tingkat perceraian tertinggi.
 
Kami juga HERAN karena ternyata para akademisi yang terdiri dari orang-orang pintar dan terhormat, yang biasa duduk di kursi empuk dan ruangan ber-AC tidak mengetahui fakta bahwa di Kabupaten Rembang tidak ada Komunitas Adat, kami adalah masyarakat Jawa biasa pada umumnya, sama halnya saudara kami Masyarakat Samin yang tinggal di Kab Blora, Pati, Kudus dan Bojonegoro. Kalaupun para akademisi menganggap masyarakat Samin sebagai Komunitas Adat, saudara-saudara kami tersebut tidak ada yang tinggal dan menjadi warga Rembang.
 
MARAH, karena seruan para akademisi tersebut yang seolah menjadi pahlawan bagi kami, justru mengancam peluang kami dan anak-anak kami khususnya untuk mendapatkan peluang dan kesempatan hidup lebih baik.
 
Para akademisi yang terhormat, perlu kami sampaikan fakta, bahkan sebelum Pabrik Rembang beroperasi, mereka telah hadir di tengah ketidakberuntungan kondisi geografis kami dengan menyediakan akses air bersih di beberapa desa, membangun Embung Tegaldowo yang mampu mengairi puluhan hektar lahan pertanian kami, membantu ratusan anak-anak kami untuk melanjutkan sekolah dengan program beasiswa, membantu ratusan Usaha Kecil agar maju dan berkembang, membantu membangun infrastruktur desa, masjid-masjid, jalan, sarana wisata, bantuan kesehatan gratis, khitanan massal, membantu membebaskan anak-anak kami dari derita bibir sumbing, amandel dan penyakit bawaan lainnya, merangkul anak-anak muda kami dalam kegiatan kepemudaan, dan juga mengijinkan sebagian petani memanfaatkan semua lahan-lahan Semen Rembang untuk bercocok tanam.
 
 
Tahukah Anda semua wahai para Akademisi yang terhormat, bahwa lebih dari 18 perusahaan penambang batu gamping telah menambang sejak 1995 di area yang berdekatan dengan area tambang batu gamping Semen Rembang?
 
 
Dimanakah Anda? Mengapa Anda sekarang baru ribut saat Semen Rembang akan beroperasi? Kemana saja Anda semua selama ini jika memang menaruh perhatian pada penambangan?
Mengapa justru Semen Indonesia sebagai Badan Usaha Milik Negara yang telah memberikan komitmennya untuk menjaga daya dukung lingkungan dan telah memberikan banyak manfaat kepada kami, warga sekitar pabrik, justru Anda hambat untuk beroperasi?
 
Para akademisi yang terhormat, saya informasikan pula bahwa saat ini Semen Indonesia sedang dalam proses mendirikan Sekolah Akademi 2 tahun di Rembang, dengan program-program terkait operasional Pabrik Semen. Mereka mempersiapkan anak-anak kami di Rembang agar kelak anak-anak kami sendirilah yang akan mengoperasikan Pabrik Semen Rembang tersebut.
 
Fakta-fakta di atas lah yang membuat kami MARAH kepada para akademisi, yang menurut kami gagal memahami persoalan dan fakta sebenarnya di lapangan dan justru mengancam kesempatan kami dan anak-anak kami untuk hidup lebih baik.
 
Namun demikian kami menaruh HARAPAN kepada para akademisi untuk membantu kami memanfaatkan peluang ini. Kami bukanlah para warga yang malas bekerja, dan kami bukanlah kumpulan para warga yang mempergunakan “aji-aji mumpung”. Kami adalah para warga yang sudah terbiasa bekerja keras dalam kondisi alam yang kurang menguntungkan ini.
 
Untuk itu kami menaruh harapan kepada para Akademisi yang terhormat untuk membantu kami, memanfaatkan peluang ini dengan bijaksana agar kami terputus dari mata rantai kemiskinan dan kekurangberuntungan yang berkepanjangan. Kami menaruh harapan kepada Anda semua untuk turut mengawasi perusahaan Negara ini untuk tetap menjaga daya dukung lingkungan dan memberikan manfaat yang lebih baik lagi kepada kami, masyarakat yang lebih luas, Kabupaten Rembang, dan juga kepada Jawa Tengah dan Indonesia.
 
Kami mengundang dengan tulus kepada para Akademisi untuk mengunjungi kami, menemukan fakta di lapangan yang sebenarnya, untuk kemudian membantu kami dan anak-anak kami menyongsong masa depan yang lebih baik.
 
 
Terima kasih.
 
Perwakilan Masyarakat Desa-Desa Sekitar Pabrik Semen Rembang
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s