Polisi, Jangan Lupa Tuntaskan Kasus Power Ranger dan Semen Rembang

Hiruk pikuk polemik kehadiran PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah. Adu data soal CAT Watuputih, karst, sungai bawah tanah, KBAK dan lainnya menjadi sumbu ledak di media akhir-akhir ini.
 
Namun, jangan pernah lupakan yang pernah amat jelas & nyata sudah berdasarkan bukti: kasus pemalsuan dokumen daftar nama warga penolak pabrik Semen Rembang.
 
Secara hukum, pada 16 Februari lalu Joko Prianto –yang dianggap dedengkotnya JMPPK– sudah ditetapkan tersangka. Kasus kriminal tersebut sudah ditangani Polda Jawa Tengah, bahkan masuk tahap pemeriksaan tersangka.

Jkp Tersangka.jpg
Kasus pemalsuan dokumen berawal dari ditemukannya nama-nama tidak lazim seperti Ultraman, Power Rangers, copet terminal, Menteri hingga Presiden. Belum lagi diperolehnya bukti dicatutnya nama 30 balita ke dalam dokumen.
 
Pemalsuan tanda tangan dan pencatutan nama bayi itu ada dalam daftar tambahan bukti dokumen gugatan ke PTUN hingga MA. Dalam bukti lampiran itu, ada 2.051 tanda tangan warga Rembang. Polisi menyatakan, identitas warga penolak Semen Rembang itu palsu.
 
Tanda tangan ditengarai juga dipalsukan. Kabar terakhir akan diteliti Laboratorium Forensik Polda Jawa Tengah.
 
Jangan sampai semua itu berhenti. Sekali lagi jangan berhenti kelanjutan penegakan hukumnya. Berteriak melawan negara dengan alasan penegakan hukum namun justru menjadi pelanggar hukum itu sendiri.
 
Pihak kepolisian sebagai institusi penegakan hukum sudah sepatutnya terus melanjutkan kasus kriminal tersebut. Amat keji saat melawan industri negara yang juga didukung warga sekitarnya sebab dinilai positif kehadirannya, tetapi dihambat segelintir orang dengan cara kriminal.
 
Polisi tak perlu ragu meneruskan kasus pemalsuan daftar nama warga penolak Semen Rembang. Pengusutan hingga tuntas diperlukan agar hukum betul-betul hadir sesuai yang diinginkan JMPPK selama ini dalam aksi-aksinya.
 
Semakin aneh, di pihak penolak Semen Rembang ada LSM Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBH). Patut dipertanyakan, selalu teriak atas nama hukum tapi mengerti hukum?
 
Kenapa mengerti hukum justru melanggar hukum? Ah ternyata alasan peduli lingkungan hanya kedok ya!
 
Jadi amat jelas, melawan negara namun dengan tindakan kriminal sudah selayaknya menikmati suasana hangatnya kamar penjara. Polisi tidak boleh diam kepada pengganggu stabilitas negara.
 
Selain pemalsuan dokumen, ada juga kasus kematian Yu Patmi pada 21 Maret lalu. Yu Patmi adalah salah satu peserta aksi cor kaki tolak Semen Rembang di depan Istana Negara. Kematiannya menyimpan kejanggalan yang bisa menjadi titik awal aparat kepolisian mengungkap siapa pembunuh Yu Patmi.

WhatsApp Image 2017-04-07 at 17.01.37.jpeg
 
Yu Patmi mulai ikut aksi cor kaki selama 6 hari. Hal itu sudah melanggar rekomendasi dari dokter tim kesehatan pendamping aksi cor kaki mengenai batas waktu cor kaki. Jika lebih dari itu akan mengancam keselamatan.
 
Kasihan Yu Patmi: menjadi korban pembodohan aktivis-aktivis JMPPK. Yu Patmi sengaja dikorbankan, mengacuhkan rekomendasi kesehatan.
 
Ini semua, sekali lagi, polisi tak boleh diam. Kembali mengusut tuntas banyaknya pelanggaran hukum yang terjadi untuk melawan negara.***⁠⁠⁠⁠
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s