Semen Indonesia: Antara Menjaga Kedaulatan Bangsa dan Kepitan Asing

Kompetisi bisnis dalam industri semen bisa diibaratkan sebuah pertempuran. Saling adu kepiawaian untuk mendapatkan pasar dari pesaing bisnis yang berpeluang mendominasi. Apalagi antara milik negara dan asing atau swasta untuk merebut hati pasar domestik.

Bertambahnya pabrik semen baru tentu memperkuat kuantitas produksi dan peluang mendominasi pasar. Apalagi jika pabrik tersebut berada di tengah target pasar.

Oleh karena itu, pasar domestik merupakan sasaran utama distribusi semen, bukan pasar ekspor. Pulau Jawa menjadi rebutan karena berdasarkan data, mendominasi 56 persen konsumsi nasional.

Ditambah program pemerintahan Presiden Jokowi saat ini yang fokus pada pembangunan infrastrukur di seluruh pelosok negeri.

Sehingga jangan heran dengan datangnya perusahaan-perusahaan semen asing ke Indonesia. Masuknya perusahaan semen kelas dunia bermodal besar, seperti LafargeHolcim (Semen Cibinong), Heidelberg (Indocement) dan An Hui Conch adalah contoh persaingan semen domestik.

Hijrahnya perusahaan-perusahaan tersebut ke Tanah Air ikut mempengaruhi suplai tenaga kerja asing karena basis kepemilikan industrinya. Jika dikaitkan dengan kompetisi bisnis semen, tidak dapat dipungkiri kehadiran perusahaan asing itu dipastikan mengancam industri semen nasional milik negara atau BUMN sebagai kompetitornya.

PT Semen Indonesia sebagai industri milik negara atau BUMN tentu memiliki perbedaan dengan perusahaan semen asing. Paling tampak menyangkut penyerapan tenaga kerja lokal. Sederhana saja: PT Semen Indonesia berbasis nasional yang tentu memprioritaskan tenaga kerja lokal daripada warga negara asing.

Misalnya saja, pabrik semennya di Rembang, Jawa Tengah. Membutuhkan jumlah 2.267 tenaga kerja. Angka tersebut mencapai 75 persen dari total penduduk di sekitar 5 desa yang berdekatan dengan areal industri pabrik semennya.

Patut diketahui, secara persaingan bisnis semen, saat ini Holcim, Indocement bersama PT Semen Indonesia menguasai hampir 90 persen pangsa pasar dalam negeri. Dengan komposisi pembagian 36 persen milik PT Semen Indonesia dan sekitar 54 persen milik kedua perusahaan semen asing tersebut.

Akibatnya, perusahaan BUMN yang sejak 2012 menjadi holding company dari Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa dan Thang Long Cement Vietnam harus berjibaku untuk memenangkan persaingan semen di dalam negeri. PT Semen Indonesia memerlukan kekuatan kapasitas produksi tambahan untuk hal itu.

Salah satunya dilakukan adalah membuka pabrik semen baru di Rembang dengan rencana area tambang seluas 293 hektar yang mampu memproduksi 3 juta ton per tahun.

Jika saja itu terealisasi, maka diharapkan PT Semen Indonesia akan menguasai market share perusahaan semen asing yang kerap mendominasi di beberapa daerah. Tentu saja ini bagus untuk kedaulatan negara dan menjadi ancaman jatah pasar perusahaan semen swasta dan asing.

Salah satu faktor PT Semen Indonesia harus memenangkan kompetisi semen karena negara tidak boleh lemah oleh spekulasi harga pasar dari perusahaan asing. Mendominasinya pasar semen milik perusahaan asing bakal mengeksploitasi harga semen seenaknya.

Lemahnya swasemabada semen nasional maka membuat negara ketergantungan pada produksi asing. Saat pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur.

Uniknya, keberadaan industri PT Semen Indonesia kerap dibumbui isu kerusakan lingkungan atau penyerobotan lahan tani yang tidak pernah di kritisi secara berimbang dengan kehadiran perusahaan semen asing. Ada kepentingan kompetitor? Entahlah.***⁠⁠⁠⁠

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s