Karst di Rembang Tidak Bermasalah di Tambang Pabrik Semen

Badan Geologi Kementerian ESDM menyebutkan, Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, di Rembang, Jawa Tengah, kegunaannya memang ditujukan untuk lokasi industri dan penambangan.

Apalagi, CAT Watuputih hingga kini belum ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK). Dengan begitu dirasa aman serta tidak melanggar aturan untuk di tambang.

Demikian penjelasan Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar, di Bandung, Jawa Barat, kemarin, pada diskusi Bedah Fakta Geologi Karst Rembang.

“Selama belum ada penetapan KBAK, kawasan tersebut bisa dilakukan penambangan,” ucap Rudy.

CAT Watuputih direncanakan bakal menjadi lokasi penambangan bahan baku industri PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang). Namun segelintir orang menentang industri itu.

Penambangan di CAT Watuputih dikhawatirkan merusak lingkungan setempat dan menganggu stabilitas debit air yang kabarnya menjadi sumber pertanian masyarakat selama ini.

Sebelumnya, pada awal Februari lalu sebanyak 12 pakar dalam rapat Komisi Penilai Amdal telah menyatakan amdal Semen Rembang layak dan direkomendasikan dapat diterbitkan izin lingkungan.

Kendati begitu, Rudy mengakui bahwa CAT Watuputih merupakan areal karst, namun tidak ditetapkan sebagai daerah perlindungan KBAK oleh pemerintah pusat dan daerah.

“Batu gamping itu pasti adalah karst. Kalau karst memang iya, CAT Watuputih adalah karst,” Rudy menuturkan.

Rudy juga mengungkapkan, sesuai temuan Badan Geologi, ternyata air yang mengalir berada di bagian timur dan barat. Kedua bagian daerah tersebut yang justru airnya digunakan sebagai irigasi dan bukan untuk minum masyarakat.

 

“Mungkin itu yang dikhawatirkan sebagian masyarakat,” ujar Rudy.

Sementara, akademisi teknik pertambangan dari ITB, Irwan Iskandar, mengatakan, kawasan karst memiliki dua kemungkinan yaitu bisa memiliki dan tidak mempunyai aliran air sungai bawah tanah.

Irwan menyatakan, untuk itu saat melakukan penambangan maka begitu konservasi harus dilakukan dengan hati-hati.

“Soal sumber daya air kita manfaatkan sebanyak mungkin tidak apa-apa. Tapi kita kembalikan lagi sesuai manfaat yang sudah kita dapatkan. Itu prinsip dasar dari teknologi pemanfaatan dan konservasi,” beber Irwan.

Terkait polemik Semen Rembang yang selama ini berlangsung, Irwan mengajak semua pihak mencermati keberadaan pabrik milik PT Semen Indonesia lainnya di Padang, Tuban dan Gresik.

“Itu bisa menjadi pelajaran yang berharga apa yang terjadi di sana. Apakah ada sumber daya air di bawahnya? Apa mata airnya hilang? Apa masyarakat kehilangan sumber air bersih? Itu harus kita cermati,” beber Irwan.

Bahkan, Irwan mengatakan, bila tidak ada aturan KBAK tak boleh di tambang, secara teknik pertambangan yang baik bisa dijamin aman penambangan bahan baku semen.

Sedangkan pakar geologi lingkungan Budi Sulistijo mengungkapkan, karst bukanlah kategori kawasan lindung. Menurut dia, karst merupakan batu gamping yang berlubang.

“Jika dikatakan karst adalah kawasan lindung, maka semua penambangan harus tutup semua ” ujar Budi.

Budi juga menegaskan bahwa lokasi penambangan Semen Rembang bukanlah berada di zona Pegunungan Kendeng. Zona Pegunungan Kendeng, ucap Budi, berada di wilayah selatan.

“Jika nanti Kementerian LHK dalam KLHS menyatakan masuk zona Pegunungan Kendeng, itu harus dipertanyakan,” tutur Budi. (has)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s