Sejak April 2016 Nyemen Kaki dan Berdemo Jalan Kaki, Nggak Kerja?

Bu Patmi adalah orang Kendeng yang merupakan salah satu demonstran menolak pembangunan pabrik semen di Rembang. Beliau tutup usia pada 48 tahun. Meninggal setelah mandi pada dini hari 02:30.

Demo tentang penolakan terhadap pembangunan pabrik semen sebenarnya hanya terfokus pada menolak PT Semen Indonesia. Sementara belasan pabrik semen lainnya sudah berdiri dan beroperasi, termasuk penambangan lokal.

Alasan-alasan merusak lingkungan ini pun hanya omong kosong saja, untuk dijadikan pembenaran umum dan mengumpulkan emosi massa. Sebab kita semua pasti cinta lingkungan, jadi kalau ada yang menolak pabrik semen seolah sudah pasti benar. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

PT Semen Indonesia sudah membangun Bozem seluas 530 hektare yang lebarnya 50 meter di empat sisi area yang bakal ditambang. Bozem kemudian ditanami tanaman keras, menjadi tanggul untuk menahan air saat hujan. Air tidak boleh keluar dari area tambang. Kemudian menambangnya juga hanya di atas zona kering. Desain tambang yang dia buat itu hanya boleh menambang di kedalaman 80-100 meter. Semuanya diatur sedemikian rupa untuk memastikan bahwa operasi parik semen tidak mengganggu lingkungan hidup. Hal ini sudah dikaji oleh orang-orang berkompeten sebelum perusahaan mendapatkan ijin amdal.

Sistem penambangan oleh pabrik semen yang modern dan tidak mengganggu lingkungan, bahkan malah membantu pengairan pertanian, sebenarnya sudah ada contohnya. Yakni di Tuban Jawa Timur, wilayah yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. Anda kalau lewat jalur pantura, sepanjang jalan protokol akan melihat aneka pabrik semen berdiri kokoh seluas ratusan hektare dan tidak ada masalah dengan lingkungan. Tidak ada juga warga yang menyemen kakinya di depan istana. Semua rakyat menikmati penyerapan tenaga kerja, ekonomi meningkat dan pertanian pun semakin produktif.

Lalu kenapa mereka rakyat Jateng mendemo sampai menyemen kakinya? ini pertanyaan menarik. Secara singkat, itu karena mereka dijadikan tumbal perusahaan-perusahaan semen asing dan politisi oposisi. Dengan tujuan; Semen Indonesia tidak beroperasi dan semen asing semakin merajalela, politisi punya mainan untuk mengganggu pemerintah dengan tujuan menurunkan kepuasan publik, agar 2019 nanti mereka bisa bersaing dan menang.

Dominasi pabrik semen asing

Perusahaan asing dari pabrik semen berhasil memproduksi 34,2 juta ton atau mewakili 47,8 persen total kapasitas domestik yang tercatat di Asosiasi Semen Indonesia.

Pabrik Semen Cibinong, diakuisisi oleh Holcim Ltd. Per akhir Maret 2015, kepemilikan perusahaan asal Swiss ini sudah mencapai 80,64 persen. Indocement, 51 persen sahamnya telah dikuasai oleh Heidelberg Cement AG, Jerman. Dan Lafarge, produsen semen asal Prancis juga sudah menguasai Semen Andalas.

Tiga investor asing ini, Holcim, Indocement, Andalas, sudah hampir menguasai produksi semen di Indonesia. Mereka terus berekspansi meningkatkan kapasitasnya.

Dengan kenyataan inilah kemudian pemerintah membuat Holding Company bernama PT Semen Indonesia, yang kemudian membawahi Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tanosa sebagai anak perusahaannya. Harapannya, dengan digabungnya perusahaan lokal tersebut, nantinya dapat menekan pabrik-pabrik asing yang mulai menguasai Indonesia.

Langkah pemerintah pun tak main-main, Semen Indonesia membangun pabrik semen modern dan canggih di atas tanah seluas 530 hektare. Pembangunan ini dimulai sejak tahun 2014 dan awalnya ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2016, dan 2017 sudah bisa produksi secara komersial.

Tapi kemudian upaya pemerintah ini mendapat penolakan (seolah-olah) dari warganya sendiri. Sejak April tahun 2016, sudah ada kelompok pendemo yang menyemen kakinya di depan istana. Saat itu Semen Indonesia baru saja selesai membangun dan dinyatakan siap beroperasi.

Rupanya, penolakan dengan cara demo menyemen kaki ini berlangsung sampai tiga hari yang lalu, dan akhirnya memakan korban meninggal atas nama Bu Patmi. Sepanjang tahun mereka berdemo menolak Semen Indonesia. Sepanjang tahun pula mereka tak perlu bekerja, sebab hampir setiap hari hanya berdemo saja. Kelompok ini juga pernah berjalan kaki sepanjang 150 Km untuk berdemo, dari Rembang ke Semarang, ditempuh lebih dari 10 hari.

Pemerintah harus bertindak keras

Kenyataan ini sudah diketahui oleh banyak orang, termasuk orang-orang di pemerintahan. Demonstrasi itu hanya soal politik dan bisnis, sama sekali bukan urusan kepedulian pada lingkungan. Alasan-alasan kerusakan lingkungan, sekali lagi hanyalah alat pembenaran untuk mendapat simpati publik.

Sepanjang tahun, dari April 2016 dan sekarang sudah Maret 2017, kelompok demonstran nyemen kaki itu kerjanya hanya nyemen kaki dan demo. Ini harus ditindak secara ekstrim melalui pendekatan ekonomi. Sebab mereka berdemo juga karena alasan ekonomi. Tidak akan ada orang yang bisa berdemo sepanjang tahun dan tidak bekerja. Mau diberi makan apa anak istrinya? Kalaupun perempuan dan ibu-ibu, apa iya mau meninggalkan suami dan anaknya sepanjang tahun? Apa iya tak ada motifnya? Sementara persoalan kerusakan lingkungan sudah dijelaskan melalui sosialisasi terbuka. Apa iya ada orang yang tidak paham-paham meski sudah dijelaskan?

Untuk itu, saya pikir sudah saatnya pemerintah bertindak tegas. Kita sudah sama-sama tahu siapa setannya. Tapi menyerang mereka secara terbuka, menyalahkan dan menuduh mereka sebagai dalang bisa jadi bumerang. Jadi, seharusnya pemerintah balik “buat susah” kelompok-kelompok tersebut dengan aturan-aturan baru yang memberatkan perusahaan asing. Kalau perlu, dibuat supaya mereka tidak betah di Indonesia. Tujuannya supaya mereka juga ikut pusing dengan masalahnya, supaya tidak sempat memikirkan penolakan terhadap BUMN Semen Indonesia. Sebab kalau mereka dalam posisi nyaman, regulasi baik, yang mereka pikirkan hanyalah persaingan bisnis. Berpikir supaya pesaingnya tidak berkembang. Salah satunya ya dengan pengerahan massa, penolakan terhadap pabrik semen pesaing dengan alasan kerusakan lingkungan.

Begitulah kura-kura.

https://seword.com/umum/sejak-april-2016-nyemen-kaki-dan-berdemo-jalan-kaki-nggak-kerja/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s