Ketika Menteri Siti Salah Informasi

Pakar Geologi ITB Budi Sulistijo heran dengan Menteri LHK Siti Nurbaya yang menduga adanya pengrusakan lingkungan dari Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa tengah.

“Bagaimana bisa ada indikasi pengrusakan lingkungan kalau PT Semen Indonesia saja belum mulai menambang. Ini kan aneh,” papar Budi yang dikenal pakar di bidang hidro geologi, engineering geologi, serta geologi eksplorasi dan lingkungan dalam rilis kepada media di Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Seperti diberitakan salah satu berita online, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyebut adanya indikasi awal tentang pengrusakan hutan dari pabrik semen Rembang itu.

Dalam hal ini, Menteri Siti merujuk kepada temuan tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Yang menerapkan metode Q-Max dan Q-Min, atau debit air maksimal dan debit air minimal mengindikasikan berkurangnya debit air di sekitar tambang milik Semen Indonesia.

Kata Budi, pengukuran Q-Max dan Q-Min, merupakan metode normal digunakan dalam hidrologi, untuk mengetahui debit air. Pemantauan Q-Max dan Q-Min harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Khususnya pada musim hujan dan kering guna memastikan penyebab menurunnya debit air. Sebab, metode ini sangat dipengaruhi curah hujan dan sistem infiltrasi di suatu daerah. “Perubahan Q-Max dan Q-Min dipengaruhi curah hujan dan laju infiltrasi,” paparnya.
Meski begitu, kata Budi, debit air di suatu wilayah bisa berubah karena aktivitas penambangan. Dengan catatan, penambangannya memotong muka air tanah dan air hujan dari lokasi penambangan dibuang ke luar. Yang menyebabkan lahan gundul atau hilangnya vegetasi. “Masalahnya, Semen Indonesia (Semen Rembang) kan belum beroperasi. Artinya belum ada penambangan. Kegiatan penambangan justru sudah dilakukan oleh 18 penambangan swasta. Di mana areal tambang mereka berdekatan dengan areal milik Semen Indonesia,” terang Budi.

Oleh sebab itu, lanjut Budi, jika memang debit air berkurang akibat adanya aktivitas penambangan, harus dilihat bagaimana metode yang dilakukan ke-18 perusahaan swasta itu. Saat ini, mereka menggarap areal seluas 250 hektar.

Budi bilang, penambangan Semen Indonesia menggunakan metode zero run off, atau air yang keluar dari areal penambangan nol persen. Sehingga, terjadi biopori raksasa atau sumur resapan. Langkah ini sesuai dengan arahan Menteri LHK tentang pembuatan biopori di rumah-rumah.

Selanjutnya dirinya menjamin bahwa lokasi IUP (Izin Usaha Penambangan) seluas 293 hektar milik Semen Indonesia, tidak ada sumber mata air, goa apalagi habitat kelelawar. Izin prinsip areal penambangan Semen Indonesia awalnya 530 hektar namun menyusut 293 hektar setelah dikeluarkannya IUP yang berpatokan dengan tidak adanya sumber mata air dan goa.

Areal tambang Semen Indonesia, lanjutnya, secara geologi bukan termasuk wilayah Zona Kendeng (Kendeng Ridge), melainkan masuk Zona Rembang. Di mana, Zona Kendeng berada di selatan Zona Rembang. “Memang harus ada win-win solution. Artinya, konservasi alam jalan, industri bergerak. Keduanya harus bisa seiring sejalan. Kecuali pemerintah ingin kelimpungan dengan melarang penambangan, ya lain persoalan,” paparnya. [tar]⁠⁠⁠⁠

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s