Jangan Mau Dibohongi Aksi Cor Kaki

Jangan Mau Dibohongi Aksi Cor Kaki

Aksi teatrikal cor kaki yg dilakukan gerombolan JMPPK yang dimotori oleh Gunretno dan Joko Prianto mencoba menarik simpati publik. Tidak mau bermusyawarah bersama 12 pakar dari berbagai perguruan tinggi dan memilih meninggalkan sidang uji dokumen amdal pada awal Februari lalu, mereka terus membuat kegaduhan dan menyebarkan propaganda. Menebar isu sara pembakaran mushola, menghasut publik dengan berbagai fakta yang disembunyikan.

Aksi cor kaki tidak lebih sebagai drama meraih simpati atas kekalahan menguji fakta. Dengan bumbu kemiskinan dan petani, mengeksploitasi perempuan dipasung semen, Joko Prianto dan Gunretno berusaha menodong publik dan Presiden untuk tunduk pada kepentingan kelompoknya. Ini bukan hanya tentang aksi cor kaki yang membutuhkan rasa iba, terlalu sempit jika mengambil kesimpulan Pemerintah telah lalai membiarkan peserta aksi cor tersiksa beberapa hari, ada fakta kebohongan yang jauh lebih besar tersembunyi dibalik cor yang dikaki, kebohongan dan pengaburan fakta untuk menggerogoti aset negeri yang kian terancam ditangan rakyatnya sendiri.

Jika saja kami mampu mengajak semua rakyat melihat fakta yang harus dibuktikan dengan mata untuk mengalahkan kebohongan yang teramat besar yang mereka tampilkan dalam teatrikal cor kaki. Sayangnya, hati publik termata layu. Lebih percaya drama depan mata. Cor kaki hanya kamuflase, topeng kemiskinan yang dibuat-buat agar publik bersimpati. Kendeng tetap lestari. Publik mesti tahu, penambangan batu kapur untuk semen, berada jauh dari lahan petani dan desa, berkisar 5 kilometer. Pakar Engineering Geology, Hydrology, Exploration and Enviromental Geology ITB, Dr Budi Sulistijo mengatakan, lahan tambang semen adalah batuan kapur yang tidak memiliki kandungan air tanah bahkan hingga kedalaman 116 meter lebih.

Pada 2 Februari 2017, Pemerintah Jawa Tengah menggelar sidang uji dokumen Amdal PT Semen Indonesia yang menghadirkan 12 pakar dari berbagai ilmu pengetahuan seperti hukum, lingkungan, ekonomi, teknologi dan kesehatan. Sidang tersebut merupakan proses menguji kelayakan dan menerima masukan untuk soluis yang dipermasalahkan. Apa yang Joko Prianto dan para penolak lakukan? Joko Prianto memilih walkout saat sidang baru berjalan 30 menit. Sedangkan Walhi, sebagai LSM yang menggugat pembangunan pabrik PT Semen Indonesia, memilih tidak hadir. Jika secara aturan tidak mau menjalankan dan mengikuti prosesnya lalu memilih menyebar kebohongan, apa artinya jika bukan pengkhianat negara?

Joko Prianto dan Gunretno hanyalah proxy. Pion yang dijalankan untuk memporak porandakan barisaan persatuan bangsa. Menghancurkan dari dalam, agar Indonesia tetap miskin. Agar rakyat Indonesia tetap tak mampu sejahtera. Sementara asing semakin berjaya di negeri ini. Bukankah kita gerah melihat angkuhnya asing mengeruk kekayaan alam Indonesia? Tapi mengapa masih mau dibohongi oleh Joko Prianto dengan cor kaki. Ingat, PT Semen Indonesia adalah perusahaan BUMN milik negara yang mesti dijaga dari hantaman asing yang terus merajalela.

Tuntutan Salah Kaprah

Tuntutan Gerombolan Joko Prianto dan Gunretno lewat JMPPK berdasarkan rilis media yang disampaikan setidaknya ada 2. Pertama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak mematuhi putusan Mahkamah Agung Untuk mencabut ijin lingkungan PT Semen Indonesia. Dan yang kedua Amdal Semen Indonesia tidak terpenuhi karena merusak cekungan air tanah di seputar kendeng.

Benarkah tuntutan tersebut? Mari kita bedah satu persatu. Gubernur Ganjar rupanya sudah memenuhi keputusan MA dengan mencabut ijin lingkungan SI pada tanggal 16 Januari 2017. Dengan demikian kewajiban sebagai kepala daerah sudah tertunaikan. Dari keputusan MA tersebut, Ganjar meminta Semen Indonesia untuk memenuhi beberapa hal terkait kebutuhan warga dalam pengajuan izin lingkungan baru yang dibenarkan sesuai UU No 32 Tahun 2009 perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Soal isu kerusakan lingkungan, Dr Budi Sulistijo mengatakan disekitar lokasi tambang Semen Indonesia sudah sejak 1998 belasan perusahaan swasta melakukan penambangan. Ditambah teknologi tata cara penambangan yang dilakukan Semen Indonesia berasaskan penambangan yang ramah lingkungan. isu adanya 109 mata air, 49 goa dan 4 sungai bawah tanah yang mengalir aktif mempunyai debit bagus, fosil-fosil yang menempel pada dinding goa pada kenyataanya tidak sesuai fakta di lapangan. Dari hasil pengecekan random, tidak ditemukan ada goa, mata air dan sungai bawah tanah di lokasi Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Semen Indonesia, tetapi ada lubang berukuran 1,5 x 1,5 meter dengan kedalaman 0,7 meter dan mempunyai stalaktit yang mati. Seperti misalnya goa Wiyu yang dinyatakan berada di lokasi tambang PT Semen Indonesia, padahal lokasi gua Wiyu berjarak 2 kilometer dari lokasi tambang.

JMPPK memang dikenal sering merilis info yang sulit diakui kebenarannya. Yang paling monumental yaitu pemalsuan dokumen pengadilan dengan memasukkan nama-nama dukungan fiktif dan mengada-ada. Disana ada Power Ranger, Ultramen, Copet terminal. Dan anehnya nama2 fiktif tersebut lolos dari verifikasi hakim Agung. Data fiktif ini kemungkinan jadi bahan pengambilan keputusan.

Kebohongan yang parah yang disampaikan yaitu cerita tentang pegunungan kendeng. Dr Budi Sulistijo, menyatakan kawasan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk berada di kawasan karst pegunungan kendeng, Menurut para ahli geologi, Indonesia khusunya wilayah Jawa terbagi menjadi beberapa zona. Diantarnya Zona Rembang termasuk didalamnya adalah kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Selain Zona Rembang ada juga Zona Randublatung dan Zona Kendeng atau dalam bahasa geologi disebut Kendeng Ridge atau disebut pegunungan kendeng. Lokasi Pegunungan Kendeng (Zona Kendeng/Kendeng Ridge) berada di selatan Zona Randublatung. Zona Kendeng atau Pegunungan Kendeng hanya penamaan, namun istilah tersebut dipersalahkan sehingga yang tersebar lokasinya berada di utara. Semua ahli geologi menyatakan Pegunungan Kendeng berada di selatan. Dan secara lokal, Menurut T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung, Pegunungan Kendeng mempunyai makna rangkaian gunung yang memanjang, karena itu nama pegunungan kendeng dapat ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Timur selain di Jawa Tengah. Ini sebetulnya yang menjadi inti masalah, adanya perbedaaan penamaan berdasarkan lokal ataupun secara geologi.

Soal isu cekungan air tanah (CAT) yang dianggap merupakan kawasan lindung yang tidak boleh dilakukan kegiatan penambangan. Dalam Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2011 tentang penetapan CAT termasuk diantaranya adalah Watuputih. Kepres tersebut hanya menyatakan nama dan lokasi CAT, tidak ditetapkan pelarangan eksploitasi ataupun penambangan di daerah Cekungan Air Tanah.

Gunretno membuat cerita bahwa tanah petani di serobot, padahal sesungguhnya tidak ada lahan petani yg diserobot. Dalam faktanya, tidak pernah ada penyerobotan lahan petani seperti cerita Gunretno. PT Semen Indonesia sebagai perusahaan negara, telah membayar lunas tanah warga dengan harga yang justru memberi keuntungan ekonomi bagi warga.

Jika aksi tersebut dilakukan benar-benar untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, mengapa tidak Freeport yang sudah setengah abad mengeruk bumi Papua yang sedikit memberikan keuntungan bagi negara?

Pada akhirnya teatrikal cor kaki depan Istana yang meminta “Pokonya harus ditutup”, hanya menunjukkan sikap bebal, kebodohan dan demokrasi anarkis yang bertentangan dengan Pancasila. Mereka, Joko Prianto, Gunretno, JMPPK, Walhi bukanlah pemilik NKRI, yang tidak membawa suara asli warga Rembang. Mereka hanya pion dari kepentingan asing yang semakin menggerogoti bumi pertiwi. Awas! Jangan mau dibohongi cor kaki.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s