Menolak Di Atas Kebohongan

Pepatah lama mengatakan “Sebuah kebohongan pasti akan diikuti kebohongan-kebohongan yang lain. Rasanya hal ini benar berlaku pada sikap para penolak pembangunan pabrik Semen Rembang. Semenjak gugatan yang dilayangkan Wahana Lingkungan Indonesia (Walhi) tahun 2014 silam, meskipun sudah berakhir pada pencabutan izin lingkungan oleh Gubernur Jawa Tengah 16 Januari 2017 lalu, nyatanya gugatan tersebut menyimpan data kebohongan yang memalukan bagi organisasi aktivis lingkungan sekelas Walhi. Bersama kompatriotnya, Joko Prianto dan Gunretno, menebar kebohongan di sosial media. Soal isu Cekungan Air Tanah (CAT) yang dinyatakan tidak boleh ditambang faktanya semua penambangan ada di kawasan CAT. Gembar-gembor penutupan pabrik Semen Rembang, padahal Presiden tidak pernah perintahkan penutupan. Data 2.501 penolak yang dijadikan bukti di pengadilan menyimpan nama-nama balita, superhero dan tanda tangan palsu.

Rupanya bukan kali ini saja mereka mendasarkan penolakan dengan kebohongan. Google mencatat Walhi Jawa Timur pernah membuat wacana kasus kematian 61 warga Tuban–yang dekat dengan pabrik Semen Indonesia Tuban–dengan mengatakan penyebab kematian tersebut diakibatkan oleh polusi debu pabrik tersebut yang sudah melebihi ambang batas. (Lihat http://kbr.id/04-2016/walhi_jatim__polusi_udara_di_ring_1_semen_tuban_lebihi_ambang_batas/80618.html dan http://walhijatim.or.id/2016/04/deru-dan-debu-desa-di-ring-satu-pabrik-semen-tuban/).

Padahal Tim Gabungan Kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, dan Puskesmas setelah melakukan pengamatan di lapangan ditemukan fakta warga yang meninggal dalam rentang waktu itu hanya 28 orang yang diakibatkan usia tua, penyakit tidak menular dan kecelakaan lalu lintas.

Diketahui kemudian, isu kematian warga di Tuban tersebut dijadikan salah satu bahan oleh Gunretno untuk memprovokasi warga Pati menolak pembangunan pabrik Semen Indonesia di Pati, yang pada akhirnya PT Semen Indonesia harus legowo keluar dari Pati.

Semestinya, jika benar ingin memperjuangkan niatan baik untuk kepedulian lingkungan harus dimulai dengan perilaku yang baik. Bukan dengan menyebar kebohongan. Bukankah berbohong bukan bagian dari ajaran Samin? Mengapa mesti lari ketika Pemerintah Jawa tengah membuka forum berdiskusi, mengundang Walhi namun tidak menampakkan diri. Untuk mencari solusi dan mencari tahu bagian mana yang disebut merusak lingkungan oleh Walhi. Ingat, bukankah skripsi menjadi karya ilmiah setelah diuji dalam sidang resmi. Begitupun, jika fakta Walhi adalah kajian ilmiah mestinya di sidang Komisi Penilai Amdal 2 Februari akan terbukti. Sayang mereka tak berani dan memilih mencari pengakuan di media publik. Mungkin hanya Dandhy dan Melanie yang yang termakan isu Walhi. Barangkali nanti Walhi tidak lagi sebagai lembaga pejuang peduli lingkungan.
Lebih pantas sebagai penebar kebohongan.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s