Berkhayal Padi 17 Ton Ala Gunretno

Setelah mendengar kabar pernyataan Kang Mas Gunretno–yang aktif menolak Semen Rembang–soal produktivitas Padi-nya yang mencapai 17 ton, saya tergerak untuk membuka kembali data-data penelitian usaha tani 5 tahun terakhir sambil juga mencoba browsing dari beberapa layanan hasil penelitian beberapa perguruan tinggi dan lembaga pemerintah yang konsen terkait hal tersebut, semisal IPB ataupun BB Padi.

Pernyataan Gunretno tersebut dilontarkan sebagai penegasan bahwa lahan pertanian di sekitar areal tambang Semen Rembang dan Pati merupakan lahan produktif. Namun, kalaupun hasil tersebut sebuah kenyataan, lebih merupakan data pencilan yang mungkin terjadi hanya satu kali seumur hidup, data pengecualian, tidak menjadi rujukan, tidak bisa dijadikan kesimpulan dan menegaskan bahwa lahan tersebut produktif.

Apalagi kemudian, tidak ditemukan pemulia padi yang mampu menciptakan varietas yang mempunyai produktivitas hingga 17 ton per hektar. Paling maksimal diangkat 13-14 ton. Misalnya, varietas padi sawah yang paling banyak ditanam di Indonesia–yakni Ciherang, menguasai sekitar 47 persen dari varietas yang digunakan petani–hanya mampu menghasilkan 5-7 ton per hektar. Inpari 13 punya potensi hasil 8 ton per hektar Gabah Kering Giling (GKG). Varietas padi hibrida, Hipa 3, punya potensi hasilnya mencapai 11,6 ton per hektar, sedangkan rata-ratanya ada diangka 8 ton.

Pada tahun 2015 lalu, Presiden Jokowi melakukan panen padi jenis baru inovasi IPB, yakni varietas padi IPB 3S. Berdasarkan data pemulianya, padi ini punya potensi hasil hingga 14,2 ton Gabah Kering Panen (GKP), tapi kemudian riilnya hanya berkisar 10,6 ton GKP per hektar. Angka itu sudah luar biasa besar diatas rata-rata produksi nasional 6-7 ton per hektar. Hasil 10,6 ton per hektar itu pun harus dilakukan dengan metode tertentu, ada perlakuan-perlakuan khusus yang harus dilakukan.

Itu baru melihat dari segi varietas padi, belum menilik klasifikasi lahan sawah yang tersebar di Rembang. Nah, berdasarkan data BPS Provinsi Jawa Tengah tahun 2010, areal sawah di Kabupaten Rembang 71,3 persen atau sekitar 20.798 hektar adalah sawah tadah hujan yang sumber pengairannya hanya memanfaatkan air hujan. Termasuk diantaranya adalah pesawahan sekitar pembangunan pabrik Semen Rembang.

Jenis sawah ini hanya menghasilkan di musim hujan. Di musim kering sawah ini dibiarkan tidak diolah karena air sulit didapat atau tidak ada sama sekali. Sawah tadah hujan umumnya hanya dipanen setahun sekali. Maksimal dua kali tanam dalam setahun, tapi jarang dilakukan oleh petani karena kemungkinan ruginya lebih besar. Hasilnyapun, dibawah rata-rata sawah irigasi yang ketersediaan air nya mencukupi, yakni hanya berkisar 4-5 ton per hektar. Kalaupun itu ditanam, lebih banyak petani akan memilih menanam palawija semacam jagung, kedelai yang membutuhkan air sedikit.

Lagipula, Rembang dan Pati mempunyai karakteristik sawah yang beda. Kalau Rembang didominasi lahan sawah tadah hujan, Pati sudah lebih maju sekitar 30,7 persen adalah lahan sawah beririgasi teknis sedangkan sawah tadah hujannya hanya 26 persen. Pengairan lahan pertanian di Pati dan kawasan sekitar kendeng mulai dari Sukolilo, Kayen sampai dengan Tambakromo dialiri saluran irigasi dari waduk Kedungombo yaitu kali jeratun. Sedangkan Rembang tidak punya.

Entah atas dasar apa Gunretno berani mengatakan produktivitas padi sampai 17 ton per hektar. Semoga bukan karena sudah mentok mengumpulkan amunisi menolak Semen Rembang. Bolehlah Gunretno lebih sering ngopi dan diskusi bareng Pak Bowo sebelum tempur dalam diskusi terbuka. Jangan sampai malu-maluin. Iyo pora Gun?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s