Semen Rembang Menjawab Tuduhan Degradasi Lahan Pertanian

Tuduhan atas hilangnya lahan pertanian akibat pembangunan dan penambangan batugamping yang dilakukan oleh Semen Rembang sebetulnya hanya bisa dijawab dengan pemaparan rinci bagaiman proses pra penambangan dan pasca penambangan yang dilakukan. Karena minimnya informasi soal keilmuan sehingga bicara mereka hanya sebatas keinginan untuk menjaga lingkungan, dianggap wajar saja. Toh sebelumnya sudah sejak 1996 ada penambang swasta yang melakukan kegiatan penambangan batugamping di Rembang nyatanya mereka luput atau entah menutup mata.

Lewat Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) mestinya menjadi bahan bagi penolak untuk berperan sebagai ‘mandor’ kegiatan penambangan Semen Rembang nantinya. RKL/RPL inilah menjadi bukti bahwa industri ekstraktrif–salah satunya penambangan batugamping–bisa berjalan harmonis dengan pengembangan pertanian.

Salah satu yang ditawarkan Semen Rembang dalam komitmennya adalah reklamasi lahan bekas tambang. Mengkonversi lahan batu kapur menjadi lahan pertanian yang produktif, sehingga bisa digunakan oleh warga untuk pertanian yang lebih menjanjikan.

Reklamasi merupakan kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan pasca penambangan, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai dengan peruntukanya. Reklamasi sendiri seharusnya menjadi kegiatan wajib bagi perusahaan yang melakukan penambangan. Ini diatur dalam Peraturan Pemerintah No 78 Tahun 2010, yang mewajibkan setiap pemegang IUP Eksplorasi dan IUP Operasi dan Produksi harus melakukan reklamasi.

Reklamasi akan memperbaiki stabilitas lahan, mempercepat penutupan tanah, mengurangi erosi, meningkatkan kesuburan tanah yang lebih produktif sehingga bisa diusahakan oleh warga untuk tanaman yang tidak hanya menghasilkan kayu tetapi juga produk non-kayu (rotan, getah, obat-obatan, buah-buahan, pangan, palawija). Selain itu reklamasi juga akan menambah jumlah lahan pertanian produktif setelah penambangan.

Bagaimana caranya? Pertama, meratakan lahan bekas tambang dengan penimbunan kembali (back filling) berkisar 70-120 cm dengan memperhatikan jenis dan asal bahan urugan, ketebalan, dan ada tidaknya sistem aliran air (drainase). Selanjutnya pendistribusian ulang top-soil (lapisan tanah bagian atas) dengan cara dilakukan secara lokal perlubang ataupun disebar merata. Baru kemudian pemberian unsur organik untuk meningkatkan kesuburan. Untuk menunjang keberhasilan dalam reklamasi lahan bekas tambang, maka perlu dilakukan juga analisis kualitas tanah, pemilihan spesies yang cocok, aplikasi teknik silvikultur yang benar, dan penggunaan pupuk biologis seperti pemberian mikroriza.

Apa yang dilakukan Semen Rembang? Pertama, Semen Rembang mereklamasi lahan bekas tambang dengan luas mencapai 290 hektar lebih sesuai RKL/RPL dan kedua membuat Buffer Zone dengan total luas 80 hektar yang berfungsi selain untuk mengurangi debu akibat hembusan angin saat penambangan dan mengurangi kebisingan, Buffer Zone juga akan dikelola oleh petani untuk bercocok tanam. Buffer zone akan bisa langsung digunakan oleh warga dengan sistem hak pinjam lahan. Jika dihitung dengan rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia, 0.25 hektar per petani. Maka dari total 80 hektar lahan pertanian yang disediakan Semen Rembang mampu menyentuh 320 kepala keluarga.

Pertanyaan kemudian muncul, apa yang sudah dilakukan Gunretno-dkk selain gerogoti aset negara? Apa nambang juga di Pati?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s