Memahami Logika Gunretno

Gunretno, nama yang satu ini mendadak populer di pemberitaan nasional. Dia adalah warga ber-KTP Kabupaten Pati yang juga menjadi Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), sebuah LSM dengan label peduli lingkungan. Saya mencoba mengakses latar belakang Gunretno di Google, namun tidak berhasil menemukan siapa sebetulnya Gunretno. Hanya sedikit sumber yang memuat tentang Gunretno, dia adalah tokoh Sedulur Sikep (Wong Samin) yang berprofesi sebagai petani, tinggal di Dusun Bombong Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati Jawa Tengah.

Bersama kompatriotnya, Joko Prianto, seorang warga Tegaldowo Kabupaten Rembang, Gunretno ‘menggebrak’ pintu Istana Merdeka dengan menggelar aksi drama ‘ngecor kaki’ pada April 2016. Lewat 9 perempuan dari Rembang dan Pati, yang memerankan tokoh ‘9 Kartini Kendeng’, Gunretno berhasil menjadi sutradara dadakan sampai-sampai Pak Presiden Jokowi terpaksa mengundangnya duduk manis di Istana. Drama tersebut adalah bagian dari alur penolakan dirinya terhadap pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah.

Dimulai dari drama ngecor kaki itulah, aksi-aksi yang ditunjukkan Gunretno menunjukkan kesan yang tidak biasa. Misalnya lagi, lewat sejawatnya, Joko Prianto, memanfaatkan momen haul pondok pesantrennya Gus Mus lalu kemudian dikesankaan di pemberitaan seolah-olah Gus Mus berada di pihak yang sama dengannya. Lalu, menggelar aksi longmarch penolak semen dari Rembang ke Semarang, buat aksi payungi ibu-ibu kendeng dan lainnya. Aksi-aksi semisal itulah yang sulit bisa terpikirkan oleh orang biasa. Apalagi kemudian, Gunretno mampu menembus para tokoh nasional semisal Buya Syafii, mendatangi Ombudsman. Bahkan Jokowi sampai mau menjamu 9 kartini kendeng, massa demo aksi 411 saja yang jumlahnya jutaan tidak ditemui oleh Presiden. Pasti, ada sosok penghubung di balik layar yang punya power dan dekat dengan pejabat dan tokoh nasional yang membackup Gunretno.

Apa yang ditunjukkan Gunretno melalui permainan isu yang dikembangkan, bagi saya menyiratkan sebuah pergerakan masif yang terstruktur, lewat diskusi-diskusi yang tidak biasa. Tidak sekedar aksi spontanitas. Rapih dan butuh dana besar. Bisakah dibayangkan, seorang petani mampu gelar aksi-aksi hebat, menghidupi tenda perjuangan bertahun-tahun, membayar Rp 50 ribu per orang para pendemo tolak semen, membelikan ornamen-ornamen untuk aksi, mondar mandir Pati-Semarang-Rembang-Jakarta? Ini tidak logis.

Kemudian, satu pertanyaan mencuat dan belum terjawab. Mengapa, ia dengan gagah berani, heroik, dan luar biasa menggerakkan penolakan Semen Rembang, tetapi di saat yang sama melupakan pabrik semen di Pati? Yang kemudian diketahui ada pertemuan antara Gunretno dengan Presiden Komisaris PT Semen Pati. Wow!

Ah, tidak usah jauh-jauh ke Pati. Sudah sejak tahun 1996 ada kegiatan penambangan di Desa Tegaldowo, bersebelahan dengan rencana lahan tambang PT Semen Indonesia di Rembang, yang digugat oleh Gunretno, Joko Print dan Walhi. Bahkan sejak 2011 lalu sudah masuk perusahaan swasta yang menambang batu kapur di Tegaldowo tanpa ada upaya pelestarian lingkungan. Ndak dilirik Kang Mas Gun? Apa pura-pura ndak tahu? Ini tidak logis!

Terakhir, Gunretno, Joko Print, Walhi dan para penolak Semen Rembang tidak akan bertanggung jawab terhadap kemiskinan di Rembang yang sudah berlangsung puluhan tahun dan seterusnya hingga 150 tahun kedepan bahkan lebih. Pada akhirnya, kita akan tahu untuk siapa logika Gunretno menolak Semen Rembang.***⁠⁠⁠⁠

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s