Hati-Hati, Gunretno-Walhi Ngapusi!

Kampanye membela hak-hak petani, perempuan dan persoalan lingkungan adalah tiga hal yang mengandung efek simpati yang dahsyat. Kebanyakan, LSM dan orang berkepentingan kerap kali menggunakan tiga hal tersebut dalam menjalankan misi si pemberi dana. Sektor industri, perkebunan dan yang terkait pengelolaam SDA adalah lahan empuk untuk menanam konflik. Dengan tagar telah terjadi perampasan hak-hak petani, perempuan dan lingkungan, maka awam akan bersimpati lalu mendukung. Mirisnya, pola masyarakat Indonesia yang punya sedikit rasa keingin tahuan, maka jangan heran mereka akan banjir dukungan.

Inilah yang terjadi dengan persoalan pabrik Semen Rembang milik PT Semen Indonesia (BUMN).

Meski upaya hukum yang dilakukan oleh Gunretno, Joko Print dan Walhi (penggugat pabrik Semen Rembang) sudah pada putusan Peninjauan Kembali (PK) MA, dan MA mengabulkan isi gugatannya yang menyatakan batal izin lingkungan kegiatan penambangan. Dari redaksi tersebut, secara eksplisit saja diartikan batalnya kegiatan penambangan yang dilakukan PT SI bukan izin pembangunan. Inilah yang oleh penolak tidak dapat diterima.

Menjelang keputusan 17 Januari mendatang, pihak penolak kerap melakukan safari menyambangi cendekiawan, ulama serta tokoh bangsa untuk mencari dukungan. Mereka memaanfaatkan kurangnya informasi dan pemahaman para tokoh tentang inti masalah polemik Semen Rembang. Dengan kata lain, Gunretno cs mencoba menciptakan klasterisasi masyarakat di bawah sehingga untuk suatu keperluan kedepan, misalnya pemilukada, akan sangat mudah dipilah-pilah.

Selain cendekiawan dan tokoh bangsa, mereka juga menyeret berbagai lembaga semisal Komnas Perempuan dengan dalih adanya tindak kekerasan pada perempuan, terjadi konflik horizontal merusak kehidupan sosial, ketegangan warga, intimidasi terhadap warga kontra, perceraian akibat perbedaan pilihan dukung atau tolak semen, dan diskriminasi di sekolah-sekolah oleh para guru. Padahal faktanya di lapangan, warga tak mengenal istilah pro maupun kontra, mereka tetap ngopi bersama. Suasana ketegangan hanya rekayasa di media dan dunia maya.

Banyaknya persoalan lain yang muncul dalam kasus Semen Rembang tidak lain karena sudah mandeknya Gunretno, Joko Print dan Walhi bicara fakta hukum. Seperti kata Kuasa Hukum PT SI, Mahendra Datta, “Kelompok penolak pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah, mengalihkan opini dari fakta persoalan. Argumentasi penolak Semen Rembang sudah tidak berdasarkan hukum.”
Bahkan Mahendra mempersilahkan kelompok penolak Semen Rembang jika merasa tidak puas, untuk melakukan upaya hukum kembali. Lalu, soal izin lingkungan perubahan (addendum) yang diterbitkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Mahendra berpendapat, tidak ada larangan hukum seorang pejabat berwenang, seperti Gubernur, mengeluarkan addendum. Apalagi secara administratif semua telah dipenuhi dan sesuai persyaratan.

Sebetulnya, tidak hanya pada fakta hukum, dari awal, kampanye persoalan kerusakan lingkungan akibat penambangan pabrik Semen Rembang di Pegunungan Kendeng, yang digemborkan Gunretno, Joko Print dan Walhi, jelas merupakan rekayasa opini negatif untuk mengelabui masyarakat indonesia. Faktanya di Pegunungan Kendeng, sudah sejak 1996 telah banyak penambangan ilegal berlangsung yang dilakukan cukong-cukong swasta. Ulah penambangan ilegal tersebut tentu saja tanpa melalui mekanisme Amdal dan izin lingkungan. Kemana Gunretno, Joko Print dan Walhi? Mereka tutup mata pakai caping petani.

Kata pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu, polemik yang terjadi pada Semen Rembang sudah bersentuhan dengan empat hal, antara lain masalah hukum, sosial, bisnis dan kepentingan. Dari keempat hal tersebut, masalah kepentingan dan bisnis amat menonjol.

Nek Semen Pati iseh tetep mlaku, berarti Gunretno-Walhi ngapusi.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s