Bancinya JMPPK ‘Ganggu’ Pabrik Semen di Jawa Tengah

 

Penolakan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang dimotori Gunretno dan Joko Print mengusik pembangunan pabrik semen milik BUMN (PT Semen Indonesia) di Rembang Jawa Tengah memunculkan pertanyaan mengapa begitu getolnya penolakan tersebut sampai-sampai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menganalogikan penolakan terhadap pembangunan pabrik semen SI bak anak perempuan dihamili orang. Bukan tanpa alasan, Ganjar merasa penolakan tersebut begitu masif baik di media pemberitaan maupun sosial media.

Yang paling ketara tentu Gunretno dengan JMPPK-nya melupakan pembangunan pabrik semen di Pati. Bahkan disinyalir ada pertemuan antara Presiden Direktur semen Pati dengan Gunretno, bahas kesepakatan?

Padahal, jika menilik isu penolakan yang mereka kemukakan terkait kerusakan lingkungan dan kekhawatiran hilangnya sumber air, pertanyaan selanjutnya bagaimana dengan banyaknya perusahaan lain yang melakukan eksplorasi batugamping di Jawa Tengah, khususnya Rembang? Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan tersebut merupakan perusahaan swasta yang hanya melakukan kegiatan penambangan saja tanpa disertakan dengan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). Beda jauh dengan apa yang dilakukan oleh perusahaan BUMN, karena pada hakikatnya perusahaan BUMN bergerak atas dasar kebermanfaatan terhadap kesejahteraan dan ekonomi bangsa (Profit), investasi sosial (People), dan lestari terhadap Bumi (Planet).

Kepala Dinas ESDM Jawa tengah, seperti dimuat SemarangPedia (27/04/2016) setidaknya ada 12 investor yang siap membangun pabrik semen di beberapa daerah semisal Pati, Grobogan, Blora, Rembang, Wonogiri, Boyolali, Gombong dan Kebumen. Katanya, Jawa Tegah merupakan lahan empuk bagi investor untuk dijadikan wilayah pabrik semen karena memiliki kandungan bahan baku yang melimpah. Perusahaan-perusahaan tersebut mayoritas merupakan milik investor asing.

Untuk Rembang saja, sudah ada 210 tambang yang memperoleh izin pemerintah dan telah beroperasi, selain PT SI. Total luas areal tambang mereka mencapai 820 hektar, terdiri dari tambang batu andesit 75 hektar, batu kapur (batu gamping) 493 hektar, pasir kuarsa 160 hektar, batu tras 80 hektar, tanah urug 10 hektar, 2 hektar tanah liat. Misalnya saja PT Gunung Mas Mineral yang menambang batu kapur, milik mantan Ketua DPR RI 2009-2014. PT Bangun Arta, yang sudah beroperasi sejak 2011 dengan luas area 38 hektar dan melakukan penambangan hingga 450 meter di atas laut. Lokasinya terletak sekitar 37 km dari Kota Rembang.

Selain itu, ada tambang-tambang milik penambang lokal yang selama ini menjadi penopang hidup sebagian warga desa, antara lain tambang PT Sinar Asia Fortuna, PT ICCI, PT Karang Jati, dan PT Amir Hajar Kilsi. Sisanya, adalah tambang rakyat yang dikelola secara tradisional oleh kelompok-kelompok warga. Mereka mengambil batu kapur mentah untuk dijual lagi sebagai bahan baku. Diantaranya dipasok ke Krakatau Steel untuk pemurnian baja, hingga produsen yang membutuhkan bahan baku industri cat dan juga pasta gigi. Tambang-tambang tersebut terletak persis di sebelah lahan tambang PT Semen Indonesia.

Kemana Gunretno dan JMPPK, apa sedang ngopi di Pati?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s