Komparasi Kasus Semen Indonesia di Rembang

Tuduhan yang dilontarkan oleh penolak pabrik Semen Rembang sejatinya tidak memiliki nilai validitas dan terkesan mengada-ada. Adanya pergeseran isu dari gugatan lingkungan dan kekhawatiran hilangnya mata air, memenuhi media massa dan online lewat aksi-aksi demo yang dilakukan. Itupun lebih kepada serangan secara personal, khususnya kepada penentu keputusan akhir, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ada lima persoalan awal tuduhan penolak pabrik Semen Rembang yang dimotori Gunretno (Koordinator JMPPK Pati) dan Joko Prianto (warga Desa Tegaldowo, Koordinator JMPPK Rembang) atas bantuan LSM Lingkungan, Walhi. Pertama soal tuduhan hilangnya sumber mata air yang dikhawatirkan kekeringan. Kedua, ada 2.501 warga Rembang yang menolak. Ketiga, petani Rembang khususnya warga lima desa di ring 1 pembangunan pabrik sudah sejahtera. Keempat, penambangan pabrik Semen Rembang berada di kawasan karst yang tidak boleh ditambang. Dan kelima, akan terjadinya kerusakan lingkungan akibat penambangan yang dilakukan PT Semen Indonesia (SMI) di Rembang.

Mari kita kupas.

Cekungan air tanah atau CAT merupakan daerah tempat air berkumpul jauh di bawah permukaan tanah. Berdasarkan surat Badan Geologi No.4474/05/BGL/2014 tanggal 12 September 2014 pada intinya menyatakan bahwa “penambangan di area cekungan air tanah (CAT) dapat dilakukan dengan perlakuan tertentu. Yaitu membuat kajian teknis imbuhan air tanah secara rinci, perlu mempertahankan daya dukung dan fungsi daerah imbuhan, melakukan upaya reklamasi pada kawasan yang sudah dieksplorasi, membangun sumur monitorng, mesti membuat upaya kelola lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL), dilarang melakukan penambangan dalam radius 200 meter dari lokasi pemunculan mata air dan mesti membuat ruang terbuka hijau. Dan yang dilakukan PT SMI jarak koordinat area penambangan dengan CAT sekitar 5 km.

Selain itu, hasil penelitian Dr Eko Haryono (Korrdinator Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM, President Asian Union of Speleology, Anggota Komisi Karst International Association of Hydro-geologist, Steering Committee of Karst Commission, International Geographical Union, Koordinator Asean World Karst Aquifer Mapping Project (IAH), Anggota China-Asean Karst Environmental Geological Mapping), menunjukkan nilai surplus air tanah dari tahun 2013 hingga 2050 dalam rentang 98.689.449 – 98.804.607 meter kubik per tahun.

Ditambah, PT SMI merencanangkan pembangunan embung berupa tempat penampungan air hujan untuk mengurangi kebutuhan air tanah dan pengendalian banjir. Tahun 2016, sudah dibangun embung di Desa Tegaldowo dengan volume tampungan 16.000 meter kubik yang mampu mengairi lahan pertanian palawija seluas 4,12 hektar, hortikultura 17,79 hektar, yang dapat dikelola oleh 200 kepala keluarga, pengendalian banjir dan hasil galian embung dapat digunakan untuk meninggikan lapangan 1-1,5 meter.

Prioritas kedua, embung akan dibangun di Desa Kumendung dengan kapasitas air 45.000 meter kubik yang dapat memenuhi kebutuhan air 338 kepala keluarga dan Desa Maguan dengan kapasitas air 11.000 meter kubik yang dapat memenuhi kebutuhan air 146 kepala keluarga. Selain embung, PT SMI membangun pipanisasi di Desa Pasucen yang selesai Oktober lalu dengan kapasitas tandon 5.100 liter dan dapat memenuhi kebutuhan air untuk 160 kepala keluarga. Serta pipanisasi di Desa Kajar dengan kapasitas tadon 8.200 liter untuk kebutuhan air 132 kepala keluarga dan telah selesai Oktober lalu.

Maka atas itu semua tuduhan pertama terbantahkan.

Kedua, dalam daftar warga Rembang penolak pembangunan pabrik Semen Rembang sebagai bukti tambahan di persidangan MA berjumlah 2.501 pada faktanya terdapat nama-nama fiktif, bahkan Gunretno sendiri, salah satu korrdinator penolakan, tidak bisa mengkonfirmasi keberadaan nama-nama tersebut. Semisal pada urutan 1.906 nama Syaiful Anwar, alamat Manchester, pekerjaannya Presiden RI. Urutan 107 dengan nama Sudi Rahayu alamat Amsterdam pekerjaan menteri. Zaenal Muhlisin, nomor urut 1.914 alamat Rembang pekerjaannya Power Rangers. Nomor 1.913 Bobi Tri S alamat Rembang, pekerjaan Ultraman. Lain hal, dikutip dari Koran-Jakarta.com (14 Desember 2016), elemen masyarakat yang terdiri dari warga sekitar desa pabrik semen PT SMI, karyawan PT SMI dan santri pondok pesantren yang berjumlah 4.000 orang melakukan aksi tanda tangan dukungan pembangunan pabrik PT SMI di Rembang. Maka tuduhan kedua terbantahkan.

Ketiga, pernyataan bahwa warga sekitar pabrik sudah sejahtera dan tidak perlu industri sebetulnya dengan data BPS saja hal tersebut tidak mempunyai dasar. Data BPS tahun 2014 menunjukkan Rembang sebagai peringkat ke-3 termiskin setelah Kebumen dan Wonosobo dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Tingkat kemiskinan Kabupaten Rembang sebesar 19,5 persen, itu jauh diangka kemiskinan Jawa Tengah dengan 13,5 persen dan dua kali lipat dari angka kemiskinan nasional yang berada di angka 10,96 persen. Kabupaten Rembang sendiri merupakan wilayah termiskin se-Pati Raya yang terdiri dari Rembang, Blora, Grobogan, Pati dan Jepara.

Lalu, data kemiskinan 5 Desa di ring 1 pembangunan pabrik lebih mengkhawatirkan lagi. Desa Kadiwono mempunyai angka kemiskinan 48,97 persen, Desa Tegaldowo angka kemiskinannya 78,45 persen, Desa Pasucen kemiskinannya 80,26 persen, Desa Kajar kemiskinannya 81,19 persen dan Desa Timbrangan dengan kemiskinannya mencapai 86,29 persen. Tren tingginya tingkat kemiskinan di Rembang nyatanya berbanding lurus dengan keberadaan industri. Daerah semisal Kudus, Pekalongan, dan Pati merupakan daerah industri yang tidak hanya mengandalkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan daerah. Industri telah memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Keempat, penambangan PT SMI dituduh berada di kawasan karst yang tidak boleh ditambang. Berdasarkan aturan, ada klasifikasi Karst yang diatur boleh tidaknya dilakukan penambangan. Wilayah PT SMI di Rembang yang semula 1500 hektar kini hanya 850 hektar, bahkan untuk luasan area tambang dari semula 520 hektar menjadi 293,9 hektar berdasarkan addendum (perubahan izin) berupa nama dan luasan melalui SK Gubernur No. 660.1/30 tanggal 9 November lalu. Dan kesemua itu tidak berada pada kawasan larangan Karst.

Kelima, tuduhan penambangan PT SMI akan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Padahal pada faktanya, sejak tahun 1994 sudah ada penambangan yang dilakukan oleh 7 hingga 10 perusahaan semen ilegal (Kompas, 20 Desember 2016) yang melakukan eksplorasi tanpa mekanisme amdal dan izin lingkungan. Perusahaan penambang tersebut hanya melakukan penggalian, yang kemudian dijual ke perusahaan di luar Rembang. Tentu kerugiannya tidak ada nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah (PAD). Sebagai informasi pabrik Semen Indonesia di Rembang ini akan meningkatkan PAD Rembang 60 persen.

Masihkah percaya atas tuduhan mereka yang tidak berdasar?***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s