Bela Agama, Membela Rakyat Untuk Sejahtera

Persoalan kemiskinan bukan lagi soal urusan negara. Agama sudah ‘ditarik’ untuk ikut memberantas kemiskinan. Dan kita mestinya sudah sepakat, Agama tidak mengajarkan kemiskinan. Tapi agama mengajak umatnya untuk sejahtera. Ajakan agama untuk sejahtera, menyentuh pada tataran personal misalnya sebagai individu yang tidak mempunyai mental miskin dan berupaya semaksimal mungkin mensejahterakan diri. Muaranya, ada pada tataran sosial sebagai umat yang merasa bersalah seandainya masyarakat sekitarnya masih berkutit dengan kemiskinan. Sebagai umat mestinya kita mengkampanyekan untuk sejahtera. Minimal kan masyarakat punya mental yang tidak miskin? Apa ada yang mau diajak miskin?

Dalam Islam misalnya, bagaimana Muhammad menuntut tegaknya keadilan dalam segala aspek termasuk keadilan ekonomi dan terbebasnya umat manusia dari penjara kemiskinan. Keadilan ekonomi adalah kerangka vital nilai-nilai Islam. Tanpa terwujudnya keadilan ekonomi niscaya ajaran-ajaran Islam sulit diimplementasikan. Begitupun dalam ajaran agama lain.

Sayangnya, kemiskinan sering dijadikan sebagai alat politik. Dan yang lebih mengerikan, pemeran politisasi itu berasal dari kelompok tertentu yang mengatasnamakan dekat dengan masyarakat, bagian dari rakyat, dekat dengan petani. Dan petani yang hampir sebagian besar penyumbang kemiskinan tertinggi di Indonesia. Menjadi alat sakti menekan pemerintah, menggembosi kebijakan pemerintah yang dianggap mengancam kepentingannya. Orang awam tentu akan dengan mudah menaruh simpati, dan dengan mudah pula akan tercipta label pemerintah tidak berada di pihak kaum petani.

Ini yang terjadi dengan pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang Jawa Tengah. Bagaimana petani sebagai kaum miskin dijadikan senjata untuk melawan, dijadikan boneka dalam demo teatrikal ngecor kaki depan istana, mencitrakan telah terjadi kesewenangan dan perebutan hak-hak lahan garapan petani di sana, dibumbui dengan isu ancaman hilangnya sumber air, dan sangkut paut ajaran agama. Apa yang terjadi kemudian? Orang indonesia yang gampang latah akan bersimpati tanpa landasan mencari informasi akurat.

Lihat saja data BPS tahun 2014, menunjukkan dengan jelas angka kemiskinan Kabupaten Rembang 19,5 persen. Ini hampir dua kali lipat kemiskinan nasional yakni 10,96 persen dan 6 persen diatas angka kemiskinan Jawa Tengah, 13,5 persen. Kemiskinan di Rembang ini ternyata tertinggi se-wilayah Pati Raya (Rembang, Grobogan, Pati, Jepara) dan peringkat ke-3 sebagai daerah termiskin di Jawa Tengah. Apalagi kalau melihat data perdesa di Ring 1 pembangunan pabrik. Angka-angkanya menunjukkan fakta yang mengerikan, desa Kadiwono kemiskinannya 48,97 persen, Tegaldowo 78,56 persen, Pasucen 80,26 persen, Kajar 81,19 persen dan Timbrangan 86,29 persen. Jadi, misal anda datang kesana dari 10 orang yang anda temui, hanya 2 orang yang tidak miskin. Masih mau bilang miskin itu sejahtera?

Dan Gunretno, salah satu yang tokoh penolakan yang mengatasnamakan warga Rembang dan mengatasnamakan penganut ajaran Sedulur Sikep, telah menempatkan pemahaman ajarannya pada tataran egosime personal. Dengan dalih ajarannya, ‘mengajak’ warga Rembang untuk menolak pembangunan pabrik PT Semen Indonesia yang notabene milik pemerintah dan punya andil mengentaskan kemiskinan. Padahal Gunretno sendiri merupakan warga Pati. Apa bukan provokator?

Maka sebenarnya, jika kita memang benar membela agama. Mestinya kita benci kepada persoalan kemiskinan yang merupakan musuh agama. Mestinya kita sebagai makhluk beragama dan berkeyakinan membela rakyat untuk sejahtera. Bukan membiarkan dan memprovokatori orang untuk selamanya ada dalam kemsikinan.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s