Gempuran Semen Asing Di Indonesia

Pembangunan infrastruktur di Indonesia akan terus meningkat. Untuk pemerintah Jokowi-JK saja tahun ini alokasi anggaran negaranya mencapai lebih dari Rp300 Triliun. Ini merupakan realisasi program nawacita Presiden yang mengalihkan subsidi energi ke pos-pos pembangunan infrastruktur untuk menunjang peningkatan perekonomian. Tentu saja, akan berpengaruh besar pada permintaan semen nasional. Meskipun, berdasarkan hitung-hitungan Asosiasi Semen Indonesia (ASI), angka konsumsi semen perkapita tahun 2015 baru menyentuh 300 kilogram perkapita dengan kapasitas produksi 75,3 juta ton. Angka ini masih jauh dibawah negara tetangga, Malaysia yang mencapai 600 kilogram perkapita. ASI memproyeksikan konsumsi semen nasional tahun depan akan mencapi 85-90 juta ton dengan pertumbuhan rata-rata pertahun mencapai 8,4 persen.

Meskipun secara keseluruhan peta persaingan pasar persemenan nasional masih dipegang PT Semen Indonesia Group, namun bila dihitung secara keseluruhan market sharenya 36 persen dipegang perusahaan semen BUMN, dan sisanya 64 persen dikuasi perusahaan asing dan swasta. Angka-angka ini tentu sangat dinamis, dengan kemudahan investasi di Indonesia saat ini dan faktor pertumbuhan ekonomi nasional yang membaik serta Indonesia yang menempati peringkat ke-9 sebagai negara yang paling diminati investor, membuat para perusahaan raksasa persemenan dunia mengincar pangsa pasar nasional.

Setidaknya ada sepuluh pemain baru di insutri semen nasional. Pertama, Siam Cement milik Thailand akan membangun pabrik di Sukabumi Jawa Barat, diproyeksikan akan menghasilkan 1,8 juta ton semen per tahun. Kedua, Semen Merah Putih miliknya Wilmar Group, Singapura, membangun pabrik di Bayah, Banten dengan kapasitas produksi 10 ribu ton per hari. Ketiga, Anhui Conch Cement milik negeri tirai bambu, Tiongkok. Mereka membangun pabrik di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Papua Barat. Keempat adalah Ultratech Mining Indonesia asal India yang menempati rangking 10 besar produsen semen dunia, membangun pabrik Kabupaten Wonogiri. Kelima, Asiatik yang membangun pabrik di Jember Jawa Timur dengan target produksinya mencapai 1,5 ton semen pertahun.

Keenam, ada Semen Barru di Sulawesi Selatan dengan bendera PT Conch South Sulawesi Mine, milik Tiongkok. Ketujuh, Semen Panasia asal Pakistan membangun pabrik di Sulawesi Selatan dengan merek dagang Semen Bima. Kemudia, kedelapan ada Jui Shin Indonesia asal Tiongkok dengan merek dagang Semen Garuda. Pabrik ini berada di Karawang dengan kapasitas produksi 2 juta ton per tahun. Kesembilan ada PT Semen Gombong di Jawa Tengah dengan target produksi 2,5 juta ton per tahun. Dan yang kesepuluh, Semen Grobogan di Jawa Tengah nilainya mencapai Rp1,4 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton semen per tahun.

Dengan akan terus meningkatnya pertumbuhan konsumsi semen nasional dan dominasi Jawa sebagai konsumen terbesar saat ini mencapai 60 persen dari total konsumsi nasional. Maka tak dipungkiri selain memperebutkan pasar nasional khususnya Jawa, perusahaan produsen semen juga bersaing dalam wilayah produksi guna mengurangi beban biaya distribusi yang tinggi.

Gempuran perusahaan semen dunia ke Indonesia akan terus berlanjut, dengan target pemerintah mendorong realisasi potensi investasi yang mencapai Rp1800 Triliun yang berimbas pada deregulasi investasi bagi investor swasta akan semakin menggerus dominasi pasar perusahaan BUMN dalam industri semen nasional. Maka jangan heran, bila suatu saat nanti semen yang kita beli untuk membangun rumah adalah milik asing yang ‘menumpang’ dan mengeruk sumber daya alam milik pertiwi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s