Pernikahan Dini, Lingkaran Kemiskinan dan Industri di Rembang

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat pernikahan dini yang cukup tinggi. Berada pada ranking 37 dunia, sementara di wilayah Asia Tenggara, Indonesia berada pada ranking 2 setelah Kamboja. Di Kabupaten Rembang pernikahan usia anak cukup tinggi. Hal itu berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten setempat, selama tahun 2014 ada 33 kasus pernikahan di usia kurang dari 16 tahun, serta ada 1.183 permohonan dispensasi menikah pada usia 16 – 18 tahun. Dari data kemiskinan, ada sekitar 10,96% penduduk miskin di Indonesia. Di Jawa Tengah sendiri angka kemiskinan memcapai 13,5%. Dan Kabupaten Rembang, menempati rangking 33 dari 35 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dengan angka kemiskinannya 19,5%. Hal ii berarti, 6% diatas Jawa Tengah, 5,54% di atas angka kemiskinan nasional.

Antara kemiskinan dan pernikahan dini, ada sebuah keterkaitan yang tak bisa dilepaskan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (PSKK UGM), usia pernikahan rata-rata 16 tahun.

Pernikahan dini rentan terjadi pada rumah tangga dengan kepala rumah tangga yang mempunyai tingkat pendidikan rendah, umumnya SD, serta dominan bekerja di sektor pertanian. Kepala rumah tangga berpendidikan SD ke bawah maka dia mempunyai empat kali kemungkinan anaknya mengalami pernikahan dini. Begitu pula dengan jenis pekerjaan kepala rumah tangga. Mereka yang bekerja di sektor pertanian mempunyai dua kali kemungkinan dibanding pekerjaan di sektor lain.

Selain faktor itu, sisi historis status pernikahan kepala rumah tangga diturunkan dari generasi ke generasi. Jika kepala rumah tangganya dulu menikah pada usia dini, kecenderungan anaknya pun seperti itu. Sehingga probabilitasnya cukup tinggi. Bagi keluarga miskin, anak dinilai sebagai sumber daya potensial untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Setelah seorang anak perempuan mengalami menstruasi, dia dianggap sudah pantas untuk menikah. Dengan harapan mengurangi beban tanggungan orang tua sehingga cukup jadi alasan membantu keberlanjutan ekonomi rumah tangga. Namun pada kenyataannya, setelah menikah anak-anak justru masih bergantung secara ekonomi kepada orang tuanya. Sehingga kemiskinan pun akhirnya terus berlanjut, dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Di Desa Tegaldowo, salah satu Desa yang berada di Ring 1 pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang, ada tradisi keluarga jika ada yang melamar putrinya harus diterima. Mereka tidak mempedulikan umur dan kesiapan mental anak. Paradigma yang terbentuk, yang penting nikah dulu tanpa mempedulikan kemungkinan perceraian yang rentan terjadi.

Seperti dikutip dari BeritaGresik, Suharti, Ketua Komisi Perlindungan Anak Desa (KPAS) Tegaldowo mengatakan, menikahkan anak pada usia yang belum cukup adalah dambaan setiap orang tua di desanya. Faktor pendidikan dan kultur menjadi acuan menikahkan dini. Dirinya sangat berharap, ada peningkatan taraf pendidikan yang akan merubah paradigma orang tua di Desa Tegaldowo terhadap pernikahan.

Lalu apa keterkaitan antara pernikahan dini dan kemiskinan dengan industri?

Dengan adanya industri di suatu Kabupaten/Kota akan memicu peningkatan ekonomi masyarakat sekitar menjadi salah satu faktor menghapus tingginya angka pernikahan dini, yang dominan disebabkan oleh kemiskinan. Industri otomatis akan menumbuhkan lapangan pekerjaan dengan tingkat pendidikan dan keahlian yang memadai. Maka akan terbangunlah sarana pendidikan yang dibutuhkan, dibangunnya sekolah-sekolah kejuruan, akademi hingga universitas.

Industri akan membuka paradigma masyarakat, membuka kesempatan lain yang dijadikan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Munculnya warung-warung mikro sekitar pabrik, usaha rumah kosan, usaha katering dan usaha lainnya.

Bila melihat data kemiskinan Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, ada keterkaitan antara rendahnya angka kemsikinan dengan adanya industri di daerah tersebut. Ambil contoh Kabupaten Kudus menempati urutan 5 angka kemsikinannya di Jawa tengah yaitu 8,62% karena disana terdapat industri rokok, konveksi dan kertas yang merupakan faktor penyangga utama perekonomian Kabupaten Kudus, terbukti dengan sumbangan kontribusi PDRB terbesar dibandingkan sektor yang lain. Kota Pekalongan yang menempati rangking 3 data kemiskinannya, terkenal dengan industri batiknya dan industri pengolahan.

Berbeda dengan, Kabupaten Wonosobo yang PDRB nya sebagian besar kontribusi sektor pertanian. Kontribusi sektor industri terhadap PDRB masih di urutan 5 dibawah sektor jasa dan perdagangan. Sementara dalam data kemiskinan Jawa Tengah, Kabupaten Wonosobo ada di urutan 35 dari 35 Kabupaten/Kota. Artinya, sektor industri yang menjadi pemicu peningkatan ekonomi masyarakat masih belum menjadi perhatian pemerintah.

PT Semen Indonesia seperti diketahui membangun pabrik di Kabupaten Rembang. Saat ini, prosesnya sudah mencapai 95%. Investasi yang digelontorkan perusahaan plat merah ini mencapai Rp4,5 Triliun yang sekitar Rp3,6 Triliun merupakan kredit dari Bank Mandiri. Namun, terhambat oleh protes sebagian warga yang diprovokasi oleh Gunretno, warga Pati Jawa tengah. Proses peradilan sudah sampai pada tahap peninjauan kembali di tingkat Mahkamah Agung yang pada 5 Oktober 2015 mengeluarkan amar putusan menyebutkan “kabul PK, batal putusan judex facti, adili kembali, Kabul gugatan, batal objek sengketa”. Padahal, jika pabrik semen ini jadi beroperasi mempunyai keuntungan sosial ekonomi bagi masyarakat Rembang. Juga sebagian kabupaten sekitar.

Di bidang sosial, meskipun pabrik belum rampung. Namun PT Semen Indonesia mempunyai komitmen pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik tapi juga utamanya peningkatan nilai kualitas sumber daya manusia warga sekitar. Ini terbukti hingga september 2016, realisasi CSR dananya sudah mencapai Rp35 Miliar.

Di sektor ekonomi, pabrik Rembang ini berpotensi menyerap 6.075 orang pekerja yang 2.267 pekerjanya berasal dari warga Rembang. Ini tentu akan bertambah dari tahun ke tahun dengan tuntutan pendidikan yang sesuai, maka akan dipastikan warga sekitar akan mengalami peningkatan tingkat pendidikan dan keahliannya. Belum lagi hitung-hitungan efek domino potensi lapangan usaha yang semakin terbuka. Akan tercipta diversivikasi lapangan kerja yang tidak hanya bertumpu di sektor pertanian. Pembangunan pab semakin maraknya pernikahan dini dan jerat kemiskinan di Rembang terus berlanjut dari generasi ke generasi hingga kita lupa mereka telah berada disana puluhan tahun apalagi segelintir orang yang seenaknya mengatasnamakan kepedulian pada Rembang, sejatinya mereka tidak peduli dengan urusan kesejahteraan warga.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s