Karst Dan Dilema Tambang

tambang-kapur

Salah satu fungsi kawasan karst yang penting adalah sebagai Iokasi resapan air karena adanya rongga-rongga akibat pelarutan dan rekahan. Rongga rongga ini akan berfungsi sebagai konduit yang baik menuju zona jenuh air tanah yang ada di daerah karst. Indonesia merupakaan wilayah iklim tropis, hampir semua batu gamping yang tersingkap ke permukaan pasti mengalami proses karstifikasi. Bentang alam karst hampir terjadi di seluruh pulau yang mengandung formasi batu gamping. Singkatnya, sedikit sekali wilayah berbatu gamping di Indonesia yang tidak memenuhi kriteria bentang alam karst seperti diatur dalam Permen 17/2012. Hampir seluruhnya, kawasan batu gamping Indonesia itu secara ilmiah adalah bentang alam karst. Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No 17 tahun 2012 menyatakan karst adalah bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan air pada batu gamping dan/atau dolomit. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa Iokasi penambangan batu gamping dengan cara tambang terbuka akan menempati wilayah karst. Siapapun itu perusahaanya, asing atau plat merah.

Pada praktiknya, pengelolaan tambang seolah akan selalu dipertentangkan dengan konservasi lingkungan. Dalam konteks pembangunan fisik, tentu saja pengelolaan pertambangan menjadi pilihan utama. Hal ini karena keuntungannya jelas tergambar di depan mata. Batugamping digali, diolah, dibuat semen, dijual, dan negara mendapat keuntungan. Hal itu semua dapat dihitung dengan angka-angka yang jelas, dalam bilangan yang nyata.

Namun pertimbangan pembangunan jangka panjang yang sifatnya harus berkelanjutan, saat ini akan sangat dipengaruhi oleh isu lingkungan dan konservasi. Alasannya, tekanan dunia internasional sejak revolusi industri yang menghendaki semua produk industri mesti ‘berlabel hijau’.

Terutama pada negara-negara berkembang yang dalam pengelolaan sumber dayanya menuju industri baru dimulai tahun 80-an. Jauh tertinggal oleh negara maju yang sudah ‘mengeruk’ sumber dayanya tanpa ada gugatan isu lingkungan dan konservasi. Di sisi lain, ketatnya aturan ‘label hijau’ dalam industri ekstraktif di negara-negara maju saat ini, cukup menjadi alasan mereka meng-ekspansi sayap bisnisnya ke negara-negara berkembang. Tidak dipungkiri, ‘label hijau’ dijadikan senjata menekan industri milik BUMN agar terlempar dari dominasi pasar doestik dengan menggunakan LSM sebagai corongnya.

Sebenarnya, pemerintah sudah menggeser aturan pengelolaan sumber daya alamnya. Tidak serta-merta sumber daya alam menjadi komoditas yang langsung dapat dieksploitasi, melainkan harus melalui kajian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Kajian ini akan menghitung kemungkinan dampak negatif yang timbul dari suatu proyek besar dan cara penanganannya. Namun, karena semua baru prakiraan ke masa depan yang belum terjadi, nilainya masih bersifat intangible.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengeluarkan suatu panduan umum valuasi ekonomi dampak lingkungan (VEDL) yang memiliki tiga tujuan. Pertama, sebagai panduan pelaksanaan penilaian (valuasi) ekonomi dampak lingkungan dalam penyusunan AMDAL. Kedua, memperkenalkan konsep kuantifikasi nilai lingkungan. Ketiga, memperkenalkan teknik dan pendekatan dalam memperkirakan nilai dampak lingkungan.

Namun tetap saja mesti ada aturan tersebut, perusahaan yang akan melakukan eksploitasi SDA mendapat pertentangan. Pertentangan ini terjadi karena industri semen mempunyai perhitungan yang jelas jumlah cadangan batugampingnya, harga-harganya (tangible) dengan waktu yang pasti, sementara VEDL adalah proyeksi ekonomi yang bersifat perkiraan yang intangible dengan waktu yang tidak pasti.

Dan yang patut disayangkan, ‘galaknya’ LSM lingkungan hanya berani menampakkan mukanya dihdapan perusahaan nasional milik pemerintah yang notabene sudah melakukan eksploitasi sesuai aturan yang berlaku. Sementara, mata dan telinga ditutup rapat terhadap perusahaan-perusahaan asing yang lari dari negaranya. Hal ini menjadi dilema pemerintah, disatu sisi pemerintah mempunyai tanggung jawab meningkatkan ekonomi nasional melalui pembangunan dan industri ekstraktif sementara jika ‘hanya’ mengandalkan potensi basic sebagai negara agraris dan maritim, Indonesia akan tertinggal. Disisi lain tekanan LSM yang berkedok nasionalis dan asing begitu kuat terhdap isu lingkungan. Dan pada akhirnya, mengutip kata Presiden pertama RI, Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit, karena melawan bangsamu sendiri.” *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s