Menakar Dampak Pembatalan Pabrik Semen Rembang

semester-i-penjualan-semen-indonesia-naik-tipis-4of

Mari kita cermati dampak yang akan ditimbulkan jika putusan Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung (MA) benar-benar menghentikan pembangunan dan beroperasinya pabrik Semen Indonesia di Rembang. Setidaknya ada tiga pihak yang akan dirugikan, pertama adalah Negara. Kedua, Karyawan PT Semen Indonesia dan ketiga, warga Rembang.

PT Semen Indonesia telah menggelontorkan dana investasi yang nilainya mencapai Rp 4,6 triliun. Dana tersebut salah satunya berasal dari kredit yang dikucurkan Bank Mandiri sebesar Rp 3,96 triliun dengan waktu kredit selama 10 tahun, yang diperuntukkan untuk membangun proyek semen sebesar Rp 3,46 trilun dan Rp 500 milyar akan digunakan sebagai kredit modal kerja pembiayaan kebutuhan operasional pada masa pabrik beroperasi.

PT Semen Indonesia merupakan perusahaan BUMN Multinasional Corporation milik pemerintah. Jika pabrik semen di Rembang gagal beroperasi otomatis negara rugi. Pertama, atas nilai investasi yang sudah keluar. Kedua, BUMN tersebut harus tetap membayar nilai kredit yang digelontorkan Bank Mandiri. Ketiga, akan mempengaruhi iklim investasi jangka panjang di Indonesia. Akan muncul keraguan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Pihak kedua yang dirugikan tentu adalah Kayawan PT Semen Indonesia. Serikat Karyawan Semen Indonesia (SKSI) dan Serikat Karyawan Semen Gresik (SKSG) pada (13/10) lalu menyampaikan pernyataan sikap untuk tetap mendukung kelanjutan pembangunan dan beroperasinya pabrik Semen Rembang. Hal tersebut didasari oleh dampak besar pembatalan. Pertama, akan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada ribuan tenaga kerja, seluruh afiliasi usahanya dan perusahaan terkait. Kedua, akan hilangnya potensi penyerapan SDM warga sekitar perusahaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang, tahun 2015 jumlah penduduk sebanyak 621.134 jiwa. Untuk jumlah angkatan kerja 320.584 jiwa (77,97 persen) sedangkan pengangguran terbukanya sejumlah 14.474 jiwa (4,51 persen).

Atas dasar itulah SKSI dan SKSG mendesak pemerintah pusat dan Gubernur Jawa tengah untuk mengambil langkah strategis guna meneruskan pembangunan dan beroperasinya pabrik Semen Rembang. Pihaknya juga akan menggalang kekuatan besar dari massyarakat Rembang mendukung kelanjutan pabrik Rembang serta menunjuk Tim Advokasi Penyelamatan Investasi Negara sebagai perwakilan kuasa hukum untuk melaksanakan upaya-upaya hukum tersebut.

Pihak ketiga yang akan dirugikan adalah warga Rembang. Baik warga sekitar kawasan pembangunan pabrik semen (Ring 1) serta warga Kabupaten Rembang dan Kabupaten sekitar.

Meskipun pabrik belum beroperasi, Pihak PT Semen Indonesia telah melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan sasaran warga sekitar dan kabupaten lain yang berdekatan. Selam 2 tahun terakhir, dananya sudah mencapai Rp 35 Milyar. Hilangnya peluang terbukanya lapangan kerja dan lapangan usaha. Seperti dikatakan Ahmad Ridwan, pembangunan pabrik Semen Rembang tidak hanya terbukanya kesempatan kerja, tapi juga terbukanya banyak peluang usaha bagi warga, diantaranya tumbuhnya usaha rumah kos, usaha makanan ringan dan catering. Selain itu, akan mendorong peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan, yang selama ini masih rendah partisipasi masyarakat.

Bahwa jelas, pembatalan pembangunan dan beroperasinya pabrik Semen Rembang akan menimbulkan efek domino negatif bagi sosial ekonomi masayarakat dan iklim investasi di Indonesia.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s