Studi Kasus Semen Indonesia di Rembang: Negara Tak Boleh Kalah Dari Kepentingan Asing

Kita patut bertanya mengapa polemik pembangunan pabrik Semen Indonesia di Rembang begitu menyita perhatian. Ditambah propaganda film dokumenter Samin vs Semen hingga berlanjut aksi demonstrasi 9 Kartini Kendeng ‘ngecor’ kaki di Istana pada April lalu. Keduanya, bila kita telusuri aktor pemeran bukanlah warga Rembang. Lalu siapa pemeran utama dalam film dokumenter itu? Bila anda tahu, Gun Retno yang mempersoalkan pembangunan pabrik semen di Rembang merupakan warga Pati. Silahkan cek! Bahkan, waga Rembang sudah menyatakan komunitas kaum Samin tidak ada satupun yang berada di Rembang, melainkan di Blora, Bojonegoro, Pati dll. Disebutnya film tersebut merupakan fitnah bagi warga Rembang.

Begitupun dengan aksi demo 9 Kartini Kendeng yang banyak ‘membisiki’. Ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam aksi tersebut, pertama, aksi yang bersifat meyedihkan, ekstrim, akan mengundang simpatik khalayak. Dilengkapi dengan pemberitaan media yang lebay lengkap sudah dramatisasi pembodohan yang tanpa fakta. Tak ada salahnya LSM-LSM kontra terhadap suatu kebijakan pemerintah, tetapi jangan manfaatkan petani sebagai objek meraih tujuan.

Sebuah pertanyaan kemudian, apakah LSM-LSM menutup mata dengan serbuan pabrik-pabrik asing ke negeri kita ini. Pabrik dari Meksiko, Swiss, Jerman, dan sebentar lagi Cina yang isunya bisa menjual semen lebih murah dari pasar. Berikut adalah pabrik-pabrik semen yang siap merambah pasar nasional.

Ada sepuluh pemain baru yang meramaikan persaingan perebutan pasar semen nasional. Ke-10 pemain baru ini membangun pabrik di sejumlah wilayah pada 2017 mendatang. Siapa saja mereka? Pertama, Siam Cement milik Thailand akan membangun pabrik di Sukabumi Jawa Barat. Nilai investasinya mencapai USD356 juta atau setara Rp4,2 triliun. Pabrik di Sukabumi ini diproyeksikan akan menghasilkan 1,8 juta ton semen per tahun.

Kedua, Semen Merah Putih miliknya Wilmar Group, membangun pabrik di Bayah, Banten dengan kapasitas produksi 10 ribu ton per hari. Ketiga, Anhui Conch Cement milik negeri tirai bambu, Tiongkok. Mereka membangun pabrik di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan Papua Barat. Untuk pabrik di Tanjung Tabolong, Kalimantan Selatan pihaknya mengucurkan dana mencapai USD500 juta setara Rp6,5 trilun dengan kapasitas produksi ditargetkan 1,5 juta ton per tahun. Kemudian pabrik di Sepinang, Kaltim dan Pontianak Kalbar dana investasinya mencapai USD600 juta dengan kapasitas 10ribu ton klinker per hari. Yang terakhir di Papua Barat perusahaan asal Tiongkok ini menggelontorkan USD750 juta untuk investasi dengan target produksi 3 juta ton per tahun.

Pabrik keempat adalah Ultratech Mining Indonesia menggelontorkan dana investasi USD827 juta untuk menghasilkan 4,5 juta ton pertahun. Perusahaan yang berasal dari India ini merupakan sepuluh besar produsen semen dunia. Mereka akan mendatangkan material lain sebagai bahan baku semen. Di antaranya pasir semen dari Jepara, gypsum dari Thailand, dan batu bara dari Kalimantan sebagai bahan bakar menjalankan industri, guna mendukung pabrik semennya yang berlokasi di Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.

Kelima, Asiatik yang membangun pabrik di Jember Jawa Timur dengan investasi Rp 5 triliun. Target produksinya mencapai 1,5 ton semen pertahun. Keenam, ada Semen Barru di Sulawesi Selatan dengan bendera PT Conch South Sulawesi Mine, namun belakangan diketahui pabrik asal Tiongkok tersebut ditutup oleh pemerintah setempat karena tidak memiliki izin. Ketujuh, Semen Panasia asal Pakistan membangun pabrik di Sulawesi Selatan dengan merek dagang Semen Bima. Kemudia, kedelapan ada Jui Shin Indonesia asal Tiongkok dengan merek dagang Semen Garuda. Pabrik ini berada di Karawang dengan kapasitas produksi 2 juta ton per tahun. Investasinya mencapai USD5 triliun. Lalu, kesembilan ada PT Semen Gombong di Jawa Tengah dengan investasi USD4,5 triliun dan target produksi 2,5 juta ton per tahun. Dan yang kesepuluh, Semen Grobogan di Jawa Tengah nilainya mencapai Rp1,4 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton semen per tahun.

Pertanyaannya, mengapa investor semen asing begitu gencar ekspansi ke Indonesia? Ketertarikan produsen semen asing di Indonesia tersebut karena Indonesia dekat dengan sumber bahan baku dan sekaligus dekat dengan konsumen. Di Indonesia, tambang batu kapur jumlahnya banyak dan konsumsi semen masih sangat rendah, sehingga memberikan potensi pasar yang tinggi.

Lalu, bila melihat peta dominasi pasar semen nasional saat ini terlihat pemain asing menguasai 44,7 persen dari pangsa pasar. Dan pemain baru, Semen Merah Putih yang juga dimiliki asing saat ini sudah menguasai 2,5 persen dari pangsa pasar. Sisanya dimiliki perusahaan milik negara, PT Semen Indonesia dan Semen Baturaja. Dan Pulau Jawa masih menjadi pasar terbesar terbesar dengan pangsa 55,2% , disusul Sumatra 23%, serta Sulawesi dan Kalimantan 7%.

Maka tak mengherankan, Pulau Jawa ini menjadi target utama. Tidak hanya dalam perebutan pangsa pasar namun juga wilayah produksi. Terlebih lagi, akan dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini, sehingga diprediksi akan meningkat tajam jumlah pemain asing. Sekarang saja, hampir setengah dari produsen swasta anggota Asosiasi Semen Indonesia (ASI) sahamnya sudah dikuasai perusahaan asing.

Pembangunan pabrik Semen di Rembang oleh PT Semen Indonesia merupakan langkah strategis untuk menguatkan dominasi pasar nasional. Apalagi, Pabrik Semen di Rembang ini produksinya mencapai 3 juta ton semen per tahun dan bisa beroperasi sampai 120 tahun. Wow, luar biasa bukan. Oleh sebab itu, polemik yang terjadi saat ini tidak semata warga yang atas namakan petani Rembang dengan PT Semen Indonesia milik BUMN. Namun lebih dari itu, ada kepentingan perebutan pasar persemenan nasional dengan asing. Karena Rembang adalah kunci siapa yang akan mendominasi, asing atau milik negeri?. Dan negara tidak boleh kalah oleh kepentingan asing. Pemerintah, DPR, Kementerian BUMN, Gubernur Jateng harus berani menentukan sikap demi kemajuan bangsa.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s