KONFLIK REMBANG : SEBUAH UPAYA PEMBUNUHAN RASA NASIONALISME MASSAL ?

14291582911363639370.jpg

Konflik Rembang merupakan topik yang selalu hangat diperbincangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mahasiswa, akademisi, dan masyarakat Indonesia. Konflik bermula dari tahun 2009 ketika warga Pati menolak dan berhasil menggagalkan rencana pendirian pabrik dan penambangan semen oleh PT Semen Gresik (PT Semen Indonesia Tbk). Kegagalan pembuatan pabrik ini kemudian membuat PT Semen Indonesia Tbk untuk melirik Kabupaten Rembang. Namun, beberapa elemen masyarakat Rembang juga menolak dibangunnya pabrik semen. Konflik mulai membesar saat prosesi peletakan batu pertama oleh PT Semen Indonesia pada tanggal 16 Juni 2014. Sejak saat itulah mulai bermunculan kelompok-kelompok baik yang pro atau kontra terhadap PT Semen Indonesia Tbk.

Konflik ini seakan-akan menjadi konflik yang tidak pernah usai karena selalu menemui jalan buntu dalam penyelesaiannya. Ketika konflik mencuat, dan pemberitaan di mediapun tidak dapat dibendung. Namun sungguh sangat disayangkan, pemberitaan di media serasa sangat tidak berimbang karena di dominasi oleh pemberitaan negatif PT Semen Indonesia Tbk dan dukungan terhadap kelompok kontra. Tindakan demonstrasi kelompok kontra, kampanye penolakan, diberitakan secara besar-besaran oleh media. Isu lingkungan dan sosial dilepar ke masyarakat awam. Usaha mempengaruhi massa dengan cara seminar, sarasehan, dialog pun terus berlangsung.

Namun meskipun menjadi kaum minoritas, kelompok-kelompok masyarakat pro juga turut angkat bicara. Salah satu yang menjadi senjata kuat dari kelompok pro adalah ketika pabrik semen berdiri maka kesejahteraan masyarakat Rembang akan meningkat. Hingga terjadi perang diantara dua kubu di jejaring sosial, yakni Twitter. Beberapa hashtag yang digunakan oleh pihak pro pabrik semen adalah #rembangmelawanprovokator dan #rembangmelawanLSM. Sedangkan hashtag yang digunakan oleh kontra pabrik semen adalah #rembangmelawan #SaveRembang #DemiRembang dan #rembugrembang, yang pada perkembangan selanjutnya baik kubu pro dan kontra memakai hashtag yang sama, yaitu #SaveRembang, #rembangmelawan dan #DemiRembang.

Konflik ini semakin berkembang tidak hanya karena perang masyarakat di ruang publik, namun juga karena adanya gugatan peradilan dari masyarakat dan LSM kepada PT Semen Indonesia Tbk. Menjelang keputusan peradilan, lagi-lagi muncul saling adu argumentasi. Namun, pada akhirnya Majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang menolak gugatan warga Rembang dan LSM terkait dengan pendirian pabrik semen di Rembang.

Yang menarik dari konflik ini, untuk dapat masuk ke dalam diskusi konflik Rembang, kita tidak bisa hanya mengandalkan persepsi dan emosi. Kita harus punya argumen dan didukung data yang jelas. Disinilah berbagai disiplin ilmu saling beradu mempertahankan teori dan pendapatnya. Namun tidakkah tergelitik untuk kita berpikir dan mengkaji ulang apakah konflik ini murni hanya karena permasalahan lingkungan dan sosial masyarakat rembang, ataukah suatu pembodohan yang berujung pada pembunuhan rasa nasionalisme masyarakat Indonesia secara massal?

Untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lupakan sejenak pemberitaan dan argumen antar dua kelompok dalam konflik ini dan berada pada posisi yang netral. Yang pertama, keberadaan pabrik PT Semen Indonesia dikhawatirkan merusak ekologi dan lingkungan salah satunya kawasan karst dan mata air pada area tersebut. Banyak pihak kontra yang mengkampanyekan isu bahwa Karst tidak boleh ditambang. Hingga keluar Kepmen ESDM nomor: 2641 K/40/MEM/2014 dimana disebutkan, jika suatu daerah karst masuk dalam bentang alam, maka daerah tersebut masuk dalam “Karst Lindung” yaitu karst yang tidak boleh ditambang. Namun, Karst Rembang tidak masuk kedalam Bentang Alam dan artinya Karst Rembang boleh ditambang, dengan batasan-batasan yang akan ditentukan kemudian. Kenyataannya, selain PT Semen Indonesia ada perusahaan tambang lain yang telah beroperasi sejak lama di Kawasan Karst Rembang. Tapi, mengapa hanya PT Semen Indonesia yang di serang secara besar-besaran dari segala penjuru?

PT Semen Indonesia juga menjamin tidak akan merusak mata air. Sebagai BUMN, PT Semen Indonesia telah menerapkan metode pertambangan profesional yang tidak merusak mata air,  karena selain menggunakan teknologi terkini dengan konsep green industry berupa peningkatan konsumsi energi alternatif dari limbah pertanian, menekan konsumsi air dan listrik, kontrol emisi ketat dan tetap melestarikan keanekaragaman hayati. PT Semen Indonesia memberikan 30% wilayah pabrik semen di Rembang digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) dan melakukan penanaman 1.000 pohon mangrove, yang merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.

Yang kedua, keberadaan pabrik PT Semen Indonesia dikhawatirkan akan mengganggu sosial ekonomi masyarakat Rembang. Faktanya, PT Semen Indonesia memberikan jaminan tidak akan menghilangkan mata pencaharian masyarakat sekitar. PT Semen Indonesia telah mengalokasikan 25% dari keseluruhan lahan pabriknya yang berada di Rembang untuk memperbaiki lahan pertanian, menyediakan saluran irigasi dan memperluas kawasan mata air di tempat tersebut untuk membantu pertanian warga. Selain itu, PT Semen Indonesia sudah mengucurkan dana CSR sebanyak 37,5 miliar sejak 2014. Selama tahun 2015, perusahaan telah merealisasikan anggaran untuk kegiatan CSR di Rembang mencapai Rp 10,5 miliar untuk berbagai kegiatan seperti bantuan kesehatan, Bantuan pengembangan sarana umum, bantuan sarana ibadah, bantuan pendidikan, bantuan sosial kemasyarakatan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan bantuan tanggap darurat bencana.

Pada awal 2016, PT Semen Indonesia juga memberikan bantuan sebanyak 1,78 miliar kepada masyarakat sekitar pabrik Rembang. Bantuan meliputi pembangunan rumah layak huni, pembuatan gapura desa, jamban, serta pemberian bibit pohon. Pembangunan rumah senilai total 1,13 miliar diberikan kepada 31 warga desa, meliputi 6 desa (Desa Kulutan, Desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Timbrangan, Desa Pasucen, Desa Kadiwono) di Kabupaten Rembang. Sisanya, senilai Rp 134 juta kepada 50 warga desa sekitar perusahaan untuk pembuatan jamban sehat. Ditambah Rp 208 juta untuk pembangunan gapura. Bantuan tersebut akan diberikan kepada 4 Desa sekitar pabrik yang terdiri dari Desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Pasucen, Desa Kadiwono. Terakhir, senilai 309 juta diberikan dalam bentuk 10.500 bibit pohon.

Selain itu, PT Semen Indonesia turut mengembangkan kualitas pendidikan warga Rembang dan memberikan sumbangan dana demi keberhasilan program kejar Paket A, B, dan C di daerah setempat. PT Semen Indonesia  juga menyalurkan pembiayaan kepada 60 usaha kecil menengah (UKM)  di dua kecamatan,  yakni  Bulu dan Gunem, dengan pembiayaan mencapai 600 juta. Bantuan pinjaman modal yang sudah diberikan Semen Indonesia kepada UKM di Rembang hingga saat ini meliputi  107 UKM dengan total bantuan 2,14 miliar. Para UKM tersebut terbagi menjadi empat  bidang yakni industri, jasa, perdagangan dan peternakan. Manajemen PT Semen Indonesia berjuang keras agar penyaluran tepat sasaran. Seleksi ketat dilakukan agar dana benar-benar termanfaatkan optimal untuk masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, jika masyarakat Rembang menolak pendirian pabrik PT Semen Indonesia, mengapa mereka mau menerima uang sebanyak itu?

Fakta-fakta diatas tentu sangat kontradiktif dengan pemberitaan yang banyak kita konsumsi saat ini. Jika PT Semen Indonesia gagal membangun dan menjalankan pabrik di Rembang, tidak akan menjadi masalah bagi PT Semen Indonesia. PT Semen Indonesia masih punya profit untuk menggaji ribuan karyawan, masih punya budget ratusan milyar untuk digelontorkan ke masyarakat lewat program-program CSRnya. Padahal, seringkali kita merasa muak ketika SDA-SDA kita di eksploitasi oleh pihak asing.  Namun ketika konflik Rembang menguar dan melibatkan PT Semen Indonesia yang notabenenya adalah perusahaan Nasional milik BUMN, kita seakan-akan menutup mata dan menulikan telinga.

Rasa nasionalisme kita sedang dipertaruhkan. Saat ini PT Semen Indonesia sedang bertarung dengan pabrik semen asing dan swasta menguasai 56% industri semen nasional. Padahal, tujuan utama Pembangunan Pabrik Semen milik Indonesia di Rembang adalah menjadikan Indonesia berdaulat di bidang semen, tidak lagi impor semen, menyerap lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan negara. Sementara kita berperang melawan negeri sendiri, negara asing terus melesat maju menerobos masuk dan semakin menancapkan pengaruhnya pada bangsa kita. Kita harus bersiap menerima produk asing merajai negara ini dan melihat devisa bangsa semakin menurun.

Jadi, dapatkah kita sebut konflik Rembang adalah sebuah upaya pembunuhan rasa nasionalisme massal?**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s